Jeddah – Xabi Alonso resmi mengakhiri masa baktinya sebagai pelatih Real Madrid. Keputusan ini diambil kurang dari 24 jam setelah timnya kalah 2-3 dari Barcelona dalam laga final Piala Super Spanyol. Momen ketika Kylian Mbappe diduga memerintahkan Alonso untuk tidak memberikan guard of honour kepada Barcelona menjadi sorotan publik.
Momen ‘Nurut’ Alonso
Dalam rekaman video yang beredar, terlihat Xabi Alonso awalnya mengisyaratkan kepada para pemain Madrid untuk memberikan guard of honour kepada Barcelona sebagai bentuk penghormatan atas gelar juara mereka. Namun, Kylian Mbappe yang berada di dekatnya tampak tidak setuju dan justru mengajak Alonso untuk mengikutinya.
Alonso kemudian terlihat mengubah keputusannya, seolah ‘menurut’ pada keinginan Mbappe. Bintang asal Prancis itu terlihat kesal dan meminta rekan-rekannya di Real Madrid untuk mundur, tidak jadi memberikan penghormatan kepada rival abadi mereka.
Sebuah akun Twitter, @TeaKupps, mengunggah video tersebut dengan komentar pedas: “I have never seen a coach’s authority be undermined like this. Xabi Alonso tells the Madrid players to form a guard of honor but Mbappe calls him back and he obliges like a puppet. No wonder Xabi can’t succeed at Madrid.”
Otoritas Pelatih Dipertanyakan
Momen ini menjadi semakin menarik perhatian setelah pengumuman perpisahan Alonso dengan Real Madrid. Banyak pihak menilai bahwa insiden tersebut menunjukkan hilangnya otoritas Alonso di dalam tim. Muncul pula rumor yang menyebutkan bahwa beberapa pemain bintang, termasuk Vinicius Junior, Jude Bellingham, dan Thibaut Courtois, dikabarkan tidak senang dengan kepemimpinan Alonso.
Xabi Alonso baru menjabat sebagai pelatih Real Madrid selama tujuh bulan. Selama periode tersebut, ia memimpin tim dalam 34 pertandingan, dengan rekor 24 kemenangan, 4 imbang, dan 6 kekalahan. Kekalahan terakhir dari Barcelona di final Piala Super Spanyol menjadi penutup masa kepelatihannya.
Dalam sebuah segmen di program Live DetikPagi, Alonso pernah menyatakan, “Cetak Gol Adalah Bakat Alamiah Mbappe.” Pernyataan ini kini kembali dikaitkan dengan dinamika hubungan pelatih dan pemain bintangnya.






