Meriyati Hoegeng, yang akrab disapa Eyang Meri, istri dari almarhum Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, telah meninggal dunia pada usia 100 tahun. Beliau menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Polri, Kramatjati, Jakarta Timur, pada Selasa (3/2/2026) pukul 13.25 WIB. Jenazah akan disemayamkan di Pesona Khayangan, Depok.
Kisah Cinta dan Kesederhanaan
Eyang Meri merupakan putri dari pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Beliau adalah keponakan dari Besar Martokoesomo, advokat pribumi pertama di Indonesia. Kisah perjalanan hidup Jenderal Hoegeng, Kapolri kelima, dan Eyang Meri turut diabadikan dalam buku ‘HOEGENG, POLISI DAN MENTERI TELADAN’. Buku ini ditulis oleh Suhartono, wartawan harian Kompas, berdasarkan penuturan Soedharto Martopoespito, mantan sekretaris Hoegeng.
Pertemuan pertama Hoegeng dan Meri terjadi saat keduanya dijodohkan oleh Kapten (TNI) Iskak, yang kala itu menjabat sebagai Kepala Bagian Penerangan Markas Besar Angkatan Darat dan memimpin seksi hiburan Radio Aldo (Angkatan Laut Darat dan Udara). Hoegeng, yang saat itu berpangkat mayor, tengah bertugas di Yogyakarta sebagai Penyelidik Militer Angkatan Laut, setelah berpindah dari kepolisian ke Kesatuan Angkatan Laut. Sementara itu, Meri dikenal sebagai gadis dari Pekalongan yang bekerja sebagai penyiar radio militer Aldo.
Hubungan mereka berlanjut ke jenjang pernikahan pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak: Reni Soerjanti Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng (Didit), dan Sri Pamujining Rahayu.
Tradisi Makan Bersama dan Nilai Kesederhanaan
Selama Hoegeng menjabat sebagai Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet pada tahun 1966, ia dikenal tidak pernah makan siang, hanya ditemani teh hangat yang disediakan petugas rumah tangga Sekretariat Negara. Hoegeng, yang memegang teguh adat Jawa, sangat menghargai masakan istrinya. Meri selalu menanti suami dan anak-anaknya pulang untuk makan bersama di siang dan malam hari. Masakan favorit Hoegeng adalah sayur lodeh dan tempe goreng.
Tradisi makan bersama ini terus terjaga hingga Hoegeng menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian, yang kemudian berganti menjadi Kepala Kepolisian Negara RI (Kapolri). “Kami sering makan bersama kalau Papi sudah pulang kerja. Sambil makan, kami menceritakan apa saja yang menarik dan yang kami alami pada hari itu,” ujar Didit, putra Hoegeng, dalam buku ‘HOEGENG, POLISI DAN MENTERI TELADAN’.
Di balik ketegasannya, Hoegeng juga mengajarkan anak-anaknya untuk hidup sederhana, mandiri, dan bertanggung jawab. Meskipun berstatus pejabat negara, Hoegeng tidak ingin anak-anaknya hidup manja atau bergantung pada jabatannya. Ketiga anaknya tidak pernah menerima uang jajan sejak duduk di bangku SMP hingga SMA. Hoegeng mendorong mereka untuk berjualan demi kemandirian dan kerja keras, seperti menjual koran hingga kue, agar uang yang didapat digunakan dengan bijak.
Pengorbanan Eyang Meri untuk Tugas Suami
Sosok Eyang Meri tidak hanya dikenal sebagai istri yang pengertian, tetapi juga sebagai pendukung prinsip hidup suaminya. Beliau rela mengorbankan kepentingannya demi kelancaran tugas Hoegeng. Meri turut menopang prinsip suaminya yang sederhana, jujur, dan anti-korupsi.
Saat Hoegeng mengalami sakit stroke yang cukup lama, Meri setia mendampinginya hingga akhir hayat suaminya pada Juli 2004 di RSCM, di usia 83 tahun. Hoegeng dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Giritama, Desa Tonjong, Kecamatan Bojonggede, Bogor, Jawa Barat. Keputusan ini diambil sesuai amanat Hoegeng yang sederhana dan berjuang tanpa pamrih, menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata agar bisa berdampingan dengan istrinya.
“Kalau Hoegeng dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Meri tak bisa dimakamkan di samping saya. Hoegeng ingin Meri selalu mendampingi,” demikian kata Hoegeng, seperti dituturkan Didit.
Selamat jalan Eyang Meri, semoga berjumpa kembali dengan Jenderal Hoegeng.






