Berita

Fadli Zon Dikukuhkan Jadi Profesor Kehormatan, Dorong Indonesia Jadi Pusat Peradaban Dunia

Advertisement

Jakarta – Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon resmi meraih gelar profesor kehormatan dari Universitas Nasional (Unas). Pengukuhan ini ditandai dengan orasi ilmiah yang membahas ‘Politik Kebudayaan Mega-Diversity: Indonesia Sebagai Pusat Peradaban Dunia’.

Sidang Terbuka Senat Universitas Nasional yang mengukuhkan Fadli Zon sebagai profesor kehormatan digelar di Auditorium Unas, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Rabu (11/2/2026). Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk Ketua MPR Ahmad Muzani, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menko Kumham Yusril Ihza Mahendra, Menteri Ham Natalius Pigai, dan Wamenbud Giring Ganesha.

Dalam orasinya, Fadli Zon menekankan posisi strategis Indonesia sebagai episentrum peradaban dunia. Ia berpendapat bahwa politik dan kebudayaan menjadi fondasi konseptual bagi sebuah negara peradaban.

“Benang merah pemikiran ini menegaskan bahwa kebudayaan merupakan infrastruktur makna yang menopang politik, menentukan nilai, identitas, dan legitimasi kekuasaan. Dalam kerangka tersebut, mega-diversity Indonesia bukan sekadar fakta demografis, melainkan episteme politik kebudayaan yang membentuk imajinasi kebangsaan,” ujar Fadli Zon.

Fadli Zon menambahkan bahwa bangsa Indonesia sejak awal berdiri di atas realitas kemajemukan yang sangat tinggi, mencakup perbedaan etnis, bahasa, budaya, agama, hingga sejarah. Ia mengutip prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

“Prinsip Bhinneka Tunggal Ika menegaskan bahwa persatuan Indonesia bukan hasil penyeragaman identitas, melainkan lahir dari kesadaran kolektif untuk hidup bersama dalam satu komunitas kebangsaan yang inklusif,” jelasnya.

Advertisement

Lebih lanjut, Fadli Zon menguraikan peran kebudayaan dalam kancah global. Menurutnya, kebudayaan memiliki daya pengaruh yang halus namun mendalam melalui nilai, tradisi, seni, bahasa, dan pengetahuan lokal yang membentuk identitas serta cara pandang suatu bangsa. Ia mencontohkan fenomena global seperti Korean Wave dan dominasi narasi Hollywood.

“Praktik global kontemporer seperti Korean Wave dan dominasi narasi Hollywood menunjukkan bahwa kekuatan budaya mampu membentuk citra positif, memperluas pengaruh, serta memperkuat posisi ekonomi dan diplomasi negara secara berkelanjutan, bahkan ketika tatanan internasional formal mengalami erosi,” ungkapnya.

Fadli Zon meyakini Indonesia memiliki potensi serupa. Tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia adalah merumuskan secara sadar dan strategis apa yang ingin dimajukan di panggung dunia. Ia menekankan pentingnya peran Kementerian Kebudayaan.

“Maka peran Kementerian Kebudayaan menjadi penting sebagai orkestrator pemajuan kebudayaan nasional Indonesia. Keberhasilannya sangat bergantung pada keterlibatan kolektif seluruh ekosistem bangsa, mulai dari pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, diplomasi hingga teknologi digital,” katanya.

Advertisement