Berita

BNPB Ingatkan Potensi Karhutla Besar pada 2027 Akibat Siklus Empat Tahunan

Advertisement

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan peringatan mengenai potensi peningkatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun 2027. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menjelaskan bahwa siklus musim kering yang lebih intens diprediksi akan terjadi setiap empat tahun, dengan puncak risiko pada 2027.

Tren Penurunan Karhutla, Namun Waspada 2027

Dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2/2026), Suharyanto memaparkan data tren karhutla dalam beberapa tahun terakhir. Secara umum, terjadi penurunan jumlah kejadian serta luas lahan yang terbakar sejak 2015. “Bencana hidrometeorologi kering atau karhutla. Ini kami punya data dari mulai tahun 2015, tahun 2025 alhamdulillah menurun terus, baik jumlah yang terbakar maupun luas lahannya. Tentu saja ini kerja sama semua pihak,” ujar Suharyanto.

Namun, Suharyanto menekankan bahwa kewaspadaan harus ditingkatkan untuk tahun 2027. “Memang dari segi cuacanya yang menjadi tantangan kami adalah bukan 2024, 2025, dan 2026, tetapi 2027. Karena di 2027 itulah siklus empat tahunan terjadi musim kering,” jelasnya.

Advertisement

Sejarah Karhutla dan Prediksi Cuaca

Untuk memberikan gambaran, Suharyanto merujuk pada kejadian karhutla besar pada tahun 2015. Setelah itu, terjadi penurunan pada periode 2016-2018 karena kondisi cuaca yang lebih basah. Namun, risiko kembali meningkat pada 2019 akibat fenomena El Nino. “2019 juga terjadi kebakaran besar karena El Nino. 2020, 2021, 2022 tidak, 2023 terjadi tapi bisa turun. Nah, tantangannya periode ini adalah nanti di 2027. Kalau 2024, 2025, 2026 memang seharusnya turun, karena cuacanya juga tidak terlalu panas dan masih banyak hujan,” paparnya.

Langkah Antisipasi BNPB

Menghadapi potensi karhutla pada 2027, BNPB telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Upaya tersebut meliputi penguatan satuan tugas (satgas) darat, operasi modifikasi cuaca, hingga penggunaan helikopter untuk water bombing. “Di pencegahannya kami sampaikan bahwa kami melengkapi satgas-satgas darat, kemudian ada operasi modifikasi cuaca, ada operasi heli, water bombing,” tuturnya.

Advertisement