Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa enam orang masih belum ditemukan pasca insiden tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menyatakan bahwa operasi pencarian telah memasuki hari kedelapan.
Pencarian Berlanjut untuk Enam Korban
“Kejadian yang terakhir tanah longsor yang terjadi di Cisarua. Alhamdulillah ini hari kedelapan, jadi sebagian besar sudah ditemukan, sudah ditemukan,” ujar Suharyanto dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa (3/2/2026). Ia menambahkan, “Jadi yang masih kami cari adalah enam jiwa, ini termasuk personel dari instansi militer, jadi masuk di dalamnya.”
Menurut Suharyanto, kecepatan operasi pencarian ini patut diapresiasi jika dibandingkan dengan kejadian serupa di wilayah lain. Ia mencontohkan bencana longsor di Banjarnegara dan Cilacap yang meskipun memiliki jumlah korban lebih sedikit, namun proses pencariannya memakan waktu lebih lama. “Itu termasuk cukup cepat karena dibandingkan dengan longsor yang terjadi di Banjarnegara dan Cilacap yang jumlah korbannya lebih sedikit, ini kami bisa mendapatkan lebih banyak, dan mudah-mudahan enam lagi ini bisa kami temukan dalam waktu yang tidak terlalu lama,” tuturnya.
Tren Bencana Hidrometeorologi di Awal 2026
Lebih lanjut, Suharyanto memaparkan bahwa BNPB mencatat 243 jenis bencana telah terjadi sepanjang awal tahun 2026. Mayoritas bencana yang terjadi adalah bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.
“Kami fokus di 2026 ini memang bergeser dari Sumatra ke Jawa. Baru saja terjadi beberapa bencana banjir di Jawa Tengah dan longsor, kemudian juga di Jabodetabek, Karawang, Bekasi, Tangerang, kemudian Jakarta sendiri,” jelasnya.
Upaya Modifikasi Cuaca Terus Dijalankan
Menyikapi kondisi tersebut, operasi modifikasi cuaca masih terus dilaksanakan. Suharyanto mengapresiasi kerja sama yang terjalin baik dengan pemerintah daerah dalam upaya modifikasi cuaca. “Artinya dengan kekuatan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam melaksanakan operasi modifikasi cuaca, paling tidak hasilnya lebih baik daripada ditanggung oleh BNPB sendiri karena tentu saja kami pun masih dalam adanya keterbatasan terkait dengan anggaran,” ungkapnya.






