Sepakbola

Ange Postecoglou Kritik Tottenham: Fasilitas Megah, Tapi Bukan Klub Besar

Advertisement

London – Mantan pelatih Tottenham Hotspur, Ange Postecoglou, melontarkan kritik tajam terhadap klub yang pernah dibesutnya. Ia menilai Tottenham, meski memiliki fasilitas megah, belum layak disebut sebagai klub besar. Pernyataan ini disampaikan Postecoglou dalam podcast The Overlap yang dipandu legenda Premier League seperti Gary Neville, Jamie Carragher, Roy Keane, dan Ian Wright.

Fasilitas Mewah, Skuad Biasa

Postecoglou, yang sempat menukangi Tottenham pada periode 2023-2025 dan berhasil mengakhiri puasa gelar 17 tahun dengan membawa pulang trofi Liga Europa musim 2024/25 sebelum akhirnya dipecat, mengungkapkan pandangannya mengenai kondisi klub.

“Mereka telah membangun stadion yang luar biasa, fasilitas latihan yang luar biasa, tetapi jika Anda melihat pengeluaran mereka, terutama struktur gaji mereka, mereka bukanlah klub besar,” ujar Postecoglou.

Strategi Transfer yang Dipertanyakan

Pelatih asal Australia ini juga menyoroti strategi transfer Tottenham yang dinilainya kurang ambisius untuk bersaing di papan atas. Ia membandingkan dengan klub-klub lain yang berani mendatangkan pemain berpengalaman.

“Bagaimana Anda bisa naik dari posisi kelima untuk benar-benar bersaing? Nah, kami harus merekrut pemain yang siap bermain di Premier League. Kami akhirnya merekrut Dominic Solanke, yang sangat saya sukai, dan tiga pemain remaja,” jelasnya.

Advertisement

Postecoglou menambahkan, “Saya mengincar Pedro Neto dan Bryan Mbeumo, Antoine Semenyo, dan Marc Guehi. Jika mau naik ke papan atas, itulah yang dilakukan klub-klub dengan membeli pemain berpengalaman. Tapi kami cuma beli tiga pemain remaja, walau mereka punya potensi, tapi mereka belum bisa bersaing sekarang.”

Slogan ‘To Dare Is To Do’ Hanya Pepesan Kosong

Lebih lanjut, Postecoglou menilai para petinggi Tottenham Hotspur tidak memiliki mentalitas kemenangan yang kuat. Slogan klub, ‘To Dare Is To Do’ (Berani Melakukannya), menurutnya, hanya menjadi pajangan tanpa diwujudkan dalam tindakan nyata.

“Di mana-mana ada moto ‘To Dare Is To Do’. Namun tindakan klub hampir merupakan antitesis dari itu,” ketusnya.

“Saya pikir mereka tidak menyadari, untuk benar-benar menang Anda harus mengambil beberapa risiko di beberapa titik. Kalau Tottenham menganggap diri mereka klub besar, saya rasa tidak,” pungkas pelatih berusia 60 tahun itu.

Advertisement