— Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara keliru menyebut Iran sebagai “Republik Islam Jepang” saat membahas serangan rudal Teheran menuju kapal induk AS. Kesalahan penyebutan itu terjadi dalam konferensi pers bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Rabu (8/7) di sela-sela KTT NATO di Turki.

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga salah menyebut Zelensky—yang duduk di sampingnya—sebagai Presiden Rusia Vladimir Putin.

EskalasI Militer dan Ancaman Balasan

Menanggapi pernyataan bahwa gencatan senjata telah berakhir, seorang pejabat tinggi militer Iran menantang pasukan AS untuk melakukan serangan darat. Laksamana Muda Habibollah Sayyari menyatakan bahwa pasukan Iran akan mengubah wilayah pesisir menjadi “neraka” bagi pasukan AS jika diperintahkan untuk menyerang.

Presiden AS memerintahkan serangkaian serangan terhadap sasaran Iran pada Rabu (8/7). Komando Pusat AS menyatakan operasinya meliputi “serangkaian serangan tambahan terhadap Iran” pada malam 8 Juli, dan Washington mengatakan tujuan serangan tersebut adalah melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz.

Serangan Balasan dan Dampak di Kawasan Teluk

Iran merespons dengan menyerang pangkalan militer AS di wilayah Teluk. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan pihaknya menargetkan “infrastruktur dan fasilitas utama” di pangkalan-pangkalan di Kuwait dan Bahrain dengan rudal dan drone.

IRGC menyebut lokasi serangan meliputi pangkalan Arifjan dan Ali Al Salem di Kuwait serta pangkalan Juffair dan Sheikh Isa di Bahrain. Sirene peringatan serangan udara meraung-raung di Kuwait dan Bahrain pada Kamis (9/7) waktu setempat setelah serangan balasan tersebut.

Skala Serangan Terbaru

Amerika Serikat mengumumkan pasukannya telah menyerang sedikitnya 90 target militer Iran pada Rabu (8/7) malam waktu setempat. Pernyataan itu menyebutkan operasi dimaksudkan untuk menurunkan kemampuan Iran melakukan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Rangkaian peristiwa ini menandai eskalasi konflik dalam beberapa hari terakhir, dengan serangan, ancaman, dan respons militer yang berlangsung antara kedua negara pada 8–9 Juli 2026.