Berita7.co.id — Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan nyaris lumpuh pada Kamis (9/7/2026) menyusul gelombang serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Iran untuk hari kedua berturut-turut. Kondisi ini mengancam runtuhnya nota kesepahaman gencatan senjata yang baru diteken pada 18 Juni 2026.
Data pelacakan kapal menunjukkan penurunan lalu lintas maritim secara drastis. Pergerakan kapal yang masih tercatat kini hanya terlihat di koridor utara yang disetujui Iran, sementara jalur sepanjang pesisir Oman yang didukung AS tampak sepi.
Volume Pelayaran Merosot Tajam
Pada Rabu (8/7/2026) tercatat hanya 14 kapal pengangkut komoditas melintasi Selat Hormuz dari kedua arah, angka terendah sejak penandatanganan nota kesepahaman. Dalam tiga pekan setelah kesepakatan, rata-rata lintasan mencapai 34 kapal per hari dengan puncak 59 kapal tanker pada 24 Juni 2026.
Saat ini pergerakan kapal yang tersisa termasuk satu kapal kontainer berbendera Iran dan sebuah kapal tanker besar yang terdeteksi keluar dari kawasan Teluk. Sejumlah pengamat mencatat beberapa kapal kemungkinan mematikan transponder agar tidak terdeteksi.
Gangguan Elektronik dan Aktivasi Sistem Pertahanan
Selain penurunan volume, terdeteksi indikasi gangguan elektronik di Teluk Oman. Beberapa kapal di lepas pantai Oman tercatat bergerak dengan kecepatan yang tidak biasa, mencapai 30 knot.
Fenomena itu terjadi bersamaan dengan aktivasi sistem pertahanan udara oleh beberapa negara di kawasan untuk menangkal serangan pesawat tanpa awak (drone), yang dilaporkan turut mengacaukan sinyal transponder kapal sipil di sekitarnya.
Gencatan Senjata Berakhir
Ketegangan meningkat setelah serangan udara besar-besaran yang diluncurkan pasukan militer AS pada Rabu dini hari. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut sebagai respons terhadap tindakan agresif Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz sebelumnya.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran kini sudah tidak berlaku lagi.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak dunia, menghubungkan produsen di Timur Tengah dengan pasar global di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Diperkirakan hampir seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati selat yang memisahkan Iran dan Oman itu setiap hari.
Hubungan AS dan Iran telah mengalami pasang surut selama beberapa dekade. Ketegangan mereda sementara setelah nota kesepahaman 18 Juni 2026, namun kesepakatan rapuh itu runtuh menyusul tuduhan AS terkait sabotase kapal komersial oleh Iran dan balasan serangan militer beruntun oleh AS.
Ikuti Berita7.co.id
