Berita7.co.id — Serangkaian serangan udara yang dilancarkan oleh pesawat tanpa awak (drone) Ukraina menargetkan fasilitas minyak dan infrastruktur energi di berbagai wilayah Rusia, termasuk pembakaran dua kapal tanker di Laut Azov, pada Kamis (9/7/2026).
Gempuran itu memicu kelangkaan bahan bakar di beberapa daerah Rusia, memaksa penerapan kebijakan jatah bahan bakar dan antrean panjang di stasiun pengisian. Pemerintah Ukraina menyebut aksi tersebut sebagai bagian dari kampanye untuk menekan Rusia agar mengakhiri perang.
Kerusakan Di Titik-Titik Kritis
Beberapa lokasi penting dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat serangan tersebut, antara lain:
- Kota Tver: kebakaran hebat di depot minyak;
- Wilayah Stavropol (Vyazniki): waduk penyimpanan minyak terbakar dan evakuasi gedung apartemen di sekitar fasilitas;
- Laut Azov: dua kapal tanker minyak terbakar dalam upaya memutus suplai bahan bakar ke Semenanjung Crimea;
- Ufa dan Rostov: infrastruktur pengisian bahan bakar di pedalaman hancur akibat serangan rudal dan drone.
Kementerian pertahanan Rusia menyatakan pihaknya menjatuhkan puluhan drone sejak Rabu hingga Kamis, sementara Angkatan Udara Ukraina melaporkan Rusia menyerang wilayahnya dengan puluhan drone jarak jauh dan dua rudal balistik yang merusak sejumlah lokasi.
Lisensi Produksi Patriot, Tapi Butuh Waktu
Dalam pertemuan puncak baru-baru ini, Presiden AS menyatakan dukungan dengan memberikan lisensi bagi Ukraina untuk memproduksi sistem pertahanan udara Patriot secara mandiri. Pernyataan itu dinilai sebagai sinyal dukungan bagi kemampuan pertahanan Ukraina.
Namun, penasihat kementerian pertahanan Ukraina, Serhii Beskrestnov, menegaskan bahwa membangun lini produksi mandiri untuk sistem rudal pencegat tersebut membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga lebih dari setahun. Hambatan utama bukan kapasitas teknis dalam negeri, melainkan siklus produksi komponen dari subkontraktor global, termasuk pasokan dari perusahaan-perusahaan luar negeri yang memakan waktu 12–24 bulan, menurutnya.
Respons Kremlin
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menanggapi rencana lisensi dan serangan Ukraina secara diplomatis. Rusia menyatakan menyadari dukungan militer asing untuk Ukraina namun menegaskan komitmen pada upaya perdamaian.
Peskov membantah bahwa eskalasi serangan oleh Kyiv akan mempercepat penyelesaian damai. “Adalah kesalahan besar jika berpikir eskalasi dan tekanan militer dapat membuka jalan menuju penyelesaian damai. Eskalasi lebih lanjut justru akan memperpanjang operasi militer dan memaksa kami menciptakan zona penyangga yang lebih besar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Presiden Rusia tetap terbuka untuk berdialog.
Perubahan Strategi Ukraina
Sejak konflik memasuki tahun kelima, pola perang bergeser ke arah atrisi ekonomi dan teknologi. Ukraina, menghadapi keunggulan kuantitas militer Rusia, dilaporkan mengandalkan armada drone murah namun canggih untuk menyasar sektor kilang dan energi yang menjadi sumber pendanaan perang Kremlin.
Sementara janji lisensi produksi Patriot memberi harapan bagi perbaikan sistem pertahanan Ukraina, ketergantungan pada rantai pasok komponen global membuat realisasi kemandirian militer diperkirakan memerlukan waktu panjang di tengah tekanan diplomatik untuk gencatan senjata.
Ikuti Berita7.co.id
