— WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan belum dapat memastikan apakah konflik antara AS dan Iran kembali meluas menjadi perang terbuka. Namun, ia menegaskan Iran kini mendesak tercapainya kesepakatan damai setelah mengalami serangan balasan dari AS.

Dalam pernyataan di pesawat kepresidenan Air Force One usai lepas landas dari Pangkalan Udara Mildenhall, Kamis (9/7/2026), Trump mengatakan militer AS baru-baru ini melancarkan serangan balasan yang jauh lebih keras.

“Saya katakan kita membalas mereka 20 banding satu. Setiap kali mereka menyerang kita, kita akan membalas 20 kali lipat, dan itu sudah kita lakukan kemarin malam,” ujar Trump. Ia menambahkan meski ada perlawanan ringan pada hari berikutnya, itu adalah efek dari serangan semalam.

Ketika ditanya kemungkinan perang terbuka, Trump menjawab diplomatis: “Saya tidak tahu.” Ia menegaskan jika konflik pecah kembali, menurutnya AS akan menang dengan cepat.

Trump juga menyebutkan Iran mengontak pihak AS dan sangat membutuhkan kesepakatan. “Mereka sangat butuh kesepakatan itu. Hanya saja, saya tidak tahu apakah mereka layak atau akan menghormati perjanjian tersebut,” ucapnya.

Gempuran Udara dan Tujuan Operasi

Komando Sentral AS (Centcom) menyatakan pasukan AS melancarkan gelombang serangan udara pada Rabu (8/7/2026). Operasi tersebut bertujuan memangkas kemampuan Iran menyerang kapal dagang dan pelaut sipil di Selat Hormuz.

Ketegangan ini dipicu serangan terhadap tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa (7/7/2026). Menyusul insiden itu, militer AS membombardir sekitar 170 target militer Iran, sementara Departemen Keuangan AS mencabut kembali izin ekspor minyak (waiver) yang sebelumnya diberikan kepada Iran.

Kesepakatan Rapuh dan Pernyataan Pemimpin AS

Beberapa pekan sebelumnya, AS dan Iran sempat meneken nota kesepahaman (MoU) untuk menenangkan konflik. Namun saat menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, Trump memberi sinyal kesepakatan itu kemungkinan besar telah runtuh.

“Saya pikir kesepakatan itu sudah berakhir. Saya tidak mau berurusan dengan mereka lagi. Bagi saya, ini sudah selesai,” kata Trump sembari menyebut negosiatornya ingin damai tetapi berurusan dengan Iran dianggapnya membuang-buang waktu.

Respons Iran dan Dampak Pasar Energi

Kementerian Luar Negeri Iran merespons serangan udara AS dengan kecaman keras, menyebut tindakan itu pelanggaran terhadap MoU yang belum genap sebulan berlaku. Pernyataan kementerian menegaskan tekad Iran mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayah serta akan menghukum para agresor.

Ketegangan di Selat Hormuz langsung berimbas pada pasar energi. Pada Kamis pagi, harga minyak mentah dunia naik, dengan Brent untuk pengiriman September di atas US$78 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di level US$73,55 per barel.

Selat Hormuz menjadi titik kritis karena perannya sebagai jalur utama pengiriman minyak mentah internasional. Gangguan keamanan di selat ini berdampak langsung pada pasokan dan harga energi global.

Konflik yang sempat mereda lewat nota kesepahaman kembali memanas akibat aksi saling balas di jalur perdagangan laut, menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas politik di wilayah serta tekanan terhadap sektor finansial global.