Berita7 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya kemungkinan menjadi target pembunuhan nomor satu oleh pemerintah Iran. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Ankara, Turki, di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.
Meski mengaku menjadi sasaran, Trump mengatakan ia tidak terganggu dan tetap fokus menjalankan tugas sebagai kepala negara. Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan paparan soal tingkat risiko yang menurutnya dihadapi seorang presiden.
Pengakuan Risiko Dan Kutipan
Trump menyebutkan peluang seorang presiden untuk dibunuh mencapai 5,2% dan membandingkannya dengan risiko profesi lain. “Kehidupan presiden sangat berbahaya dengan risiko 5,2%. Bandingkan dengan pembalap mobil atau penunggang banteng yang risikonya hanya sepersepuluh dari 1%,” ucapnya.
Dalam pernyataannya kepada media, Trump juga menyinggung kemungkinan kematian para pemimpin Iran sebagai bagian dari operasi militer yang menurutnya akan terus mengincar petinggi Iran. “Mereka (Iran) memiliki para pemimpin, namun mereka telah tiada… Mereka memiliki barisan pemimpin lain. Mereka pun bisa saja tiada. Siapa yang tahu? Saya juga bisa saja tiada, karena saya adalah target nomor satu mereka,” katanya.
Riwayat Ancaman Dan Insiden
Trump mengaitkan klaim ancaman itu dengan rekam jejak upaya pembunuhan yang pernah dialaminya. Ia menyebut sejumlah insiden yang terjadi sejak 2024 hingga 2026 sebagai konteks dari pernyataannya.
Pada Juli 2024, Trump dilaporkan terkena tembakan di telinga kanannya saat rapat umum kampanye. Dua bulan kemudian, pada September 2024, upaya pembunuhan lain digagalkan di klub golf miliknya di Florida.
Insiden berlanjut setelah ia kembali menjabat: pada April 2026 terjadi penembakan dalam acara makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih yang dihadiri Trump; tersangka dalam insiden itu kini menghadapi dakwaan percobaan pembunuhan presiden. Pada Juni 2026, aparat penegak hukum AS menyatakan telah membongkar rencana konspirasi yang menargetkan sebuah acara di Gedung Putih.
Ketegangan AS-Iran
Trump menghubungkan klaim ancaman pembunuhan dari Iran dengan sejarah perseteruan antara kedua negara. Menurut pernyataannya, ketegangan meningkat sejak keputusan yang diambil pada masa kepemimpinan sebelumnya dan diikuti peringatan dari badan intelijen AS mengenai kemungkinan operasi balasan dari Iran.
Kondisi keamanan yang memadukan ancaman dari aktor negara asing dan kerentanan dalam negeri membuat isu perlindungan presiden menjadi perhatian utama, kata Trump dalam konferensi pers tersebut.
Ikuti Berita7
