— Kampung Rajut Binong Jati di Bandung, pusat kerajinan rajut sejak 1970-an, kini menjadi contoh pemberdayaan inklusif dan pengelolaan limbah berkelanjutan. Dengan dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina, para penyandang disabilitas yang tergabung dalam Komunitas Fable mendapatkan akses produksi hingga pasar.

Program ini memberi kesempatan bagi perajin difabel untuk berkarya dari rumah sesuai kondisi mobilitas masing-masing, sekaligus meningkatkan pendapatan dan kepercayaan diri mereka.

Modal, Pendampingan, dan Akses Pasar

Melalui kolaborasi dengan Merajut Asa Kita, Komunitas Fable memperoleh bahan baku, pendampingan teknis, serta saluran pemasaran. Koordinator Komunitas Fable, Elis Juwarsi, mengatakan perubahan yang dirasakan anggota cukup signifikan.

“Dulu kami kesulitan memasarkan hasil kerajinan. Sekarang kami bisa terus berkarya dan memiliki penghasilan yang lebih tetap. Di sini kami dipandang dari kemampuan, bukan dari keterbatasan,”

Sekitar 10 anggota Komunitas Fable aktif menghasilkan produk rajutan. Kehadiran program ini dinilai memberi ruang kerja yang sesuai bagi mereka yang sulit mengakses dunia kerja formal.

Daur Ulang Sebagai Napas Keberlanjutan

Local Hero Kampung Rajut Binong Jati, Eka Rahmat Jaya, menjelaskan bahwa keberlanjutan menjadi prinsip utama komunitas. Limbah rajut dan botol plastik diolah kembali menjadi bahan baku atau produk baru untuk menambah sumber pendapatan sekaligus mengurangi sampah.

Kisah pengolahan limbah dan praktik ramah lingkungan ini juga menjadi materi pembelajaran bagi generasi muda melalui program GreenBus Pertamina.

Green Warrior: Belajar Merajut dan Memilah Sampah

Selama liburan, sekitar 15 pelajar SMA dari Kota Bandung mengikuti kegiatan Green Warrior. Mereka diajak merajut, memilah limbah rajut, dan melihat proses daur ulang sisa benang menjadi produk bernilai.

Siswi SMAN 12 Bandung, Yasmin Hasari, mengatakan pengalaman memilah sampah dan melihat pemanfaatan kembali limbah paling berkesan baginya. Rekan sekelasnya, Asya, menyebut merajut memberi banyak pembelajaran baru.

“Kita bisa mulai dari hal sederhana, seperti memilah sampah sesuai jenisnya,”

kata Steven dari SMAN 5 Bandung, yang menilai kegiatan itu mengajarkan kesabaran dan kepedulian lingkungan.

Tujuan Program dan Harapan Keberlanjutan

Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication Pertamina, menyatakan bahwa keberhasilan TJSL diukur bukan hanya dari manfaat ekonomi, tetapi juga dari kemampuan membuka kesempatan setara bagi semua lapisan masyarakat.

“Melalui pemberdayaan perajin difabel di Kampung Rajut Binong Jati, kami ingin membuktikan bahwa inklusivitas dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan serta menciptakan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat,”

Baron berharap inisiatif ini berkembang menjadi ekosistem pemberdayaan yang mengaitkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan sehingga mendorong kemandirian masyarakat dan masa depan yang lebih inklusif.