Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana membantah keras kabar mengenai sepinya kunjungan wisatawan di Bali. Ia menegaskan bahwa Bali masih mencatat angka kunjungan yang tinggi sepanjang tahun 2025.
Rapat Kerja Komisi VII DPR
Pernyataan ini disampaikan Widiyanti dalam rapat kerja Komisi VII DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu (3/2/2026). Rapat tersebut membahas mengenai destinasi wisata di Indonesia, di mana Wakil Ketua Komisi VII DPR Evita Nursanty sempat melontarkan pertanyaan terkait data pariwisata.
Statistik Kunjungan Wisatawan
Evita Nursanty mengemukakan kekhawatirannya berdasarkan data statistik yang ia lihat. Ia menyoroti bahwa 70% kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara terkonsentrasi pada tiga destinasi utama: Bali, Kepulauan Riau (Batam), dan Jakarta. “Memang yang namanya peningkatan pariwisata itu Bali ya, Bu Menteri, ya. Bali itu meningkat. Ya kan? Berarti dan meningkat dari sebelum pandemi. Jadi angka, jadi dia memang sudah pulih kalau Bali itu, ya kan?” ujar Evita.
Lebih lanjut, Evita menambahkan, “Berarti kan pembangunan pariwisata di Indonesia ini di tempat lain itu masih ketinggalan, Bu Menteri. Ini PR bagi Kementerian Pariwisata.”
Penjelasan Menpar Widiyanti
Menanggapi hal tersebut, Widiyanti menjelaskan bahwa data yang baru saja terbit mencakup periode Januari hingga November 2025. Pengolahan data ini menggunakan metode mobile positioning data (MPD), yang berbasis sinyal telepon seluler di dalam delineasi destinasi pariwisata prioritas (DPP).
“Sekaligus kami luruskan tidak benar bahwa Bali sepi, terlihat kunjungan yang tetap mencapai 12,2 juta kunjungan di Januari hingga November 2025,” tegas Widiyanti dalam rapat kerja yang digelar pada Rabu (3/2/2026).
Ia juga menyebutkan bahwa di antara 10 DPP, Lombok Gili Tramena menjadi salah satu yang terbanyak dikunjungi. Widiyanti mengakui bahwa kunjungan wisatawan memang masih terkonsentrasi pada destinasi utama yang memiliki konektivitas transportasi lebih baik.
“Memang apabila kita lihat kunjungan di tiga destinasi regeneratif jauh melebihi kunjungan ke destinasi pariwisata prioritas karena memang ketiga destinasi ini adalah yang paling dikenal sekaligus memiliki konektivitas yang paling baik sehingga pintu masuk wisatawan memang utamanya dari ketiga destinasi ini,” tuturnya.
Meskipun demikian, Widiyanti menyatakan bahwa Kementerian Pariwisata terus berupaya mendorong pemerataan kunjungan wisatawan ke berbagai daerah. “Namun upaya kami semua untuk mendorong persebaran wisatawan ke daerah lain juga mulai menunjukkan hasil yang membaik,” imbuhnya.






