Berita7 — Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah pernyataan keras dari pejabat Iran menanggapi ancaman Presiden Donald Trump. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menuding Trump lebih memahami “bahasa kekerasan” ketimbang diplomasi.
Pernyataan Gharibabadi disampaikan menanggapi ancaman Trump yang menyebut gencatan senjata sebelumnya kini “berakhir” dan mengindikasikan serangan lanjutan. Ia menilai retorika yang menghina serta ancaman militer bukanlah tanda kekuatan, melainkan kegagalan kebijakan.
“Itu adalah pengakuan atas kegagalan kebijakan yang selama bertahun-tahun dibangun di atas kekerasan, sanksi, dan ancaman. Kebijakan Trump telah gagal membuat bangsa Iran bertekuk lutut. Dengan Trump yang kriminal dan kejam, kita harus berbicara dalam bahasanya sendiri. Tampaknya, ia lebih memahami bahasa kekerasan,” tulis Gharibabadi.
AS Klaim Serangan Untuk Lindungi Navigasi
Ketegangan meningkat setelah Trump, di sela-sela KTT NATO di Ankara, menyatakan nota kesepahaman yang menengahi konflik dengan Iran tidak lagi berlaku. Segera setelah itu, AS melakukan serangan udara di wilayah selatan Iran sebagai respons atas insiden di Selat Hormuz.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi adanya operasi tambahan dan menyatakan tujuan serangan adalah melumpuhkan kemampuan Iran untuk mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Dampak Serangan Di Wilayah Selatan
Media pemerintah Iran melaporkan dampak serangan di beberapa lokasi. Di kota pelabuhan Chabahar, pecahan proyektil dilaporkan menghantam Rumah Sakit Imam Ali. Di Provinsi Bushehr, kantor berita setempat mengonfirmasi serangan namun menyatakan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr tidak rusak.
Merespons gelombang serangan, Mohsen Rezaei, penasihat militer senior untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, memperingatkan bahwa musuh agresor dan sekutunya akan menerima hukuman berat.
Akar Ketegangan Di Selat Hormuz
Konflik AS–Iran yang berkepanjangan ini salah satunya berpusat pada keamanan Selat Hormuz, jalur perdagangan penting yang dilintasi kebutuhan energi dunia. Iran berkali-kali dituduh melakukan sabotase dan penyitaan kapal oleh AS dan sekutu Barat, yang dibalas dengan pengerahan militer dan sanksi.
Nota kesepahaman gencatan senjata yang ditandatangani sebulan lalu sempat memberi harapan, namun pernyataan penarikan komitmen oleh AS di bawah kepemimpinan Trump membuat diplomasi itu runtuh. Gagalnya gencatan ini dikhawatirkan akan memperburuk stabilitas regional dan mengganggu distribusi energi global.
Ikuti Berita7
