Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengakui bahwa isu konsesi tambang menjadi salah satu faktor yang memicu konflik di internal organisasi. Ia menyatakan bahwa konflik yang terjadi sebelumnya memiliki kompleksitas yang tinggi.
“Kemudian mengenai tambang. Orang-orang mungkin agak ramai menyebutkan tambang sebagai sebab konflik dan sebagainya. Ini sebetulnya pengulangan juga, pernyataan saya selama ini, mungkin memang tambang menjadi salah satu faktor. Tapi pasti bukan satu-satunya, pasti bukan satu-satunya,” ujar Gus Yahya di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (30/1/2026).
Gus Yahya menambahkan, isu yang berkembang seputar konsesi tambang sangatlah kompleks. “Karena isu yang berkembang juga kompleks. Semua orang tahu apa saja percakapan yang terjadi seputar ini. Kompleks, tambang bukan satu-satunya,” imbuhnya.
Ia juga menjelaskan bahwa izin tambang yang diberikan kepada PBNU hingga kini belum beroperasi. Menurutnya, persoalan ini memerlukan diskusi mendalam di internal NU. “Sementara tambang itu sendiri sampai sekarang belum keluar hasil, belum. Jadi belum, belum ada operasi yang sesungguhnya berjalan mengenai tambang ini. Nah apakah ini akan dikembalikan atau tidak? Sebabnya apa dulu? Itu harus melalui diskusi yang dalam dan panjang di dalam NU sendiri, keinginan bermacam-macam,” tuturnya.
Gus Yahya mengungkapkan adanya perbedaan pandangan di kalangan internal PBNU terkait pemberian izin tambang. Sebagian ada yang tidak ingin repot dengan urusan tambang karena ketidakpahaman, sementara yang lain berharap adanya pendapatan yang bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan. “Ada kalangan yang mungkin ‘ udahlah nggak mau repot dengan soal tambang karena enggak ngerti sama sekali, ada yang berharap bahwa nanti akan ada revenue yang bisa digunakan untuk kemaslahatan dan lain sebagainya’. Ini semua harus didiskusikan, karena pasti enggak mungkin, saya, misalnya sebagai ketua umum membuat keputusan sendiri, Rais Aam membuat keputusan sendiri juga, tidak mungkin,” jelasnya.
Keputusan mengenai konsesi tambang, lanjut Gus Yahya, harus diambil melalui diskusi panjang yang melibatkan seluruh pihak, sama seperti saat PBNU pertama kali menyatakan menerima konsesi tersebut. “Ini harus melalui diskusi yang panjang ya, dan melibatkan semua pihak. Harus menjadi keputusan bersama sebagaimana keputusan pada waktu dulu PBNU menerima, menyatakan menerima konsesi. Konsesi tambang ini juga bukan keputusan perorangan, tapi keputusan organisasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Gus Yahya menegaskan bahwa izin tambang tersebut diberikan oleh negara, bukan diminta oleh PBNU. Ia juga menanggapi isu hubungannya dengan Ketua PBNU bidang Pendidikan, Hukum, dan Media, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.
“Soal Saifullah Yusuf ya, siapa bilang kita berantem, saya nggak pernah berantem dengan Saifullah Yusuf sebetulnya ya. Dia ini teman lama. Ini persepsi dari mana? Ini saya kira persepsi dari medsos saja ya,” kata Gus Yahya, membantah adanya pertengkaran.
Gus Yahya menambahkan, setelah konflik, semua kesepakatan bersama akan kembali ke kondisi semula. Ia memastikan tidak ada masalah pribadi yang terlibat. “Semuanya harus kembali ke default. Apalagi kalau soal pribadi ini sebetulnya ada ungkapan, nothing personal. Semuanya ini adalah soal, apa namanya, soal bisnis. Nothing personal, ya. Jadi enggak ada masalah pribadi sama sekali ini, dan ketika ada kesepakatan default ya default sudah,” pungkasnya.






