Jakarta – Empat warga negara Indonesia (WNI) yang merupakan awak kapal penangkap ikan dilaporkan diculik oleh kelompok bersenjata di lepas pantai Gabon, Afrika Tengah. Insiden ini mendorong Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, untuk mendesak pemerintah agar segera mengambil tindakan.
Desakan Tindakan Cepat dan Diplomatis
Dave Laksono menekankan pentingnya respons yang cepat, tegas, dan diplomatis dari pemerintah Indonesia. “Pemerintah harus bertindak cepat, tegas, dan diplomatis dalam menghadapi kasus ini, sekaligus memperkuat mekanisme perlindungan jangka panjang. Insiden di Gabon menjadi pelajaran penting bahwa perlindungan WNI di luar negeri adalah bagian integral dari politik luar negeri Indonesia, dan negara tidak boleh absen dalam menjalankan kewajiban tersebut,” ujar Dave kepada wartawan pada Rabu (14/1/2026).
Ia menambahkan bahwa insiden ini menjadi pengingat krusial mengenai tanggung jawab negara dalam melindungi warga di kancah internasional. Dave meminta pemerintah untuk segera menjalin koordinasi intensif dengan otoritas Gabon dan pihak-pihak terkait lainnya di kawasan Teluk Guinea.
“Komisi I DPR RI mendorong pemerintah untuk segera melakukan koordinasi intensif dengan otoritas Gabon serta pihak-pihak terkait di kawasan Teluk Guinea. Diplomasi yang aktif dan terarah melalui Kementerian Luar Negeri menjadi kunci, baik dalam menjalin komunikasi dengan aparat keamanan setempat maupun dalam membangun dukungan internasional,” jelas Dave.
Prioritas Keselamatan dan Komitmen Perlindungan
Keselamatan keempat WNI yang disandera menjadi prioritas utama. Dave Laksono menegaskan bahwa hal ini juga merupakan bukti komitmen pemerintah Indonesia dalam melindungi warganya di mana pun mereka berada.
“Pemerintah harus memastikan bahwa keselamatan para sandera menjadi prioritas utama, sekaligus menunjukkan komitmen Indonesia dalam melindungi warganya di manapun mereka berada,” tegasnya.
Penguatan Sistem Perlindungan Jangka Panjang
Dalam perspektif jangka panjang, Dave mendorong penguatan sistem perlindungan bagi WNI yang bekerja di perairan internasional. Hal ini mencakup peningkatan kerja sama keamanan maritim dengan negara-negara sahabat di Afrika.
“Pemerintah juga perlu memperkuat sistem perlindungan jangka panjang bagi WNI yang bekerja di sektor perikanan dan pelayaran internasional. Pendataan yang lebih ketat, pelatihan keselamatan, serta kerja sama keamanan maritim dengan negara-negara sahabat di kawasan Afrika harus segera ditingkatkan,” paparnya.
Ia juga menekankan perlunya Indonesia mengambil peran aktif dalam forum internasional terkait keamanan maritim untuk memastikan suara dan kepentingan WNI terlindungi secara berkelanjutan.
Kementerian Luar Negeri Berkoordinasi dengan Otoritas Gabon
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI telah melakukan koordinasi dengan otoritas setempat guna memastikan keselamatan para korban. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl, mengonfirmasi bahwa KBRI di Yaounde, Kamerun, yang memiliki akreditasi untuk Gabon, telah berkoordinasi dengan Konsul Kehormatan RI di Libreville.
“KBRI di Yaounde, Kamerun, yang wilayah akreditasi keranya merangkap Gabon, telah berkoordinasi dengan Konsul Kehormatan RI di Liberville (ibu kota Gabon),” kata Vahd Nabyl saat dihubungi detikcom pada Selasa (13/1).
KBRI juga telah meminta bantuan kepada otoritas Gabon untuk mendukung upaya penyelamatan para WNI. “KBRI juga mengupayakan permohonan bantuan Pemerintah Gabon untuk dukungan bantuan dan keselamatan bagi para WNI tersebut,” tambahnya.
Kemlu masih belum dapat memberikan informasi lebih rinci dan meminta masyarakat untuk mengikuti perkembangan lebih lanjut.
Kronologi Penculikan
Peristiwa penculikan ini terjadi pada Sabtu malam di sebuah kapal penangkap ikan yang berbendera Gabon. Kelompok penyerang bersenjata dilaporkan menaiki kapal tersebut dan menculik sembilan orang pelaut. Dari jumlah tersebut, empat di antaranya adalah WNI yang bekerja sebagai awak kapal.
Kepala Staf Angkatan Laut Gabon, Hubert Bekale Meyong, dalam sebuah pernyataan video yang disiarkan media Gabon dan dikutip AFP, menyatakan, “Serangan ini, yang dilakukan oleh tiga orang bersenjata, menyebabkan penculikan sembilan awak kapal, termasuk lima warga negara Tiongkok dan empat warga negara Indonesia.”
Insiden ini merupakan salah satu aksi pembajakan terbaru yang terjadi di Teluk Guinea, sebuah wilayah perairan yang membentang lebih dari 5.700 kilometer dari Senegal hingga Angola di lepas pantai barat Afrika.






