Misteri data jejak langkah kaki yang terekam di smartwatch Kopilot Farhan Gunawan, yang sempat dikira aktif pasca-kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, akhirnya terkuak. Basarnas mengklarifikasi bahwa data tersebut merupakan rekaman lama, bukan aktivitas pasca-pesawat jatuh.
Keluarga Sempat Berharap Adanya Kehidupan
Sebelumnya, keluarga kopilot Farhan Gunawan sempat mengungkapkan bahwa smartwatch Farhan yang terhubung ke ponselnya masih terpantau aktif usai pesawat ATR 42-500 mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Perangkat tersebut bahkan merekam adanya pergerakan langkah kaki, yang menimbulkan harapan adanya tanda-tanda kehidupan dari Farhan.
Informasi ini pertama kali disampaikan oleh Pitri Keandedes Hasibuan (30), keluarga kopilot, yang menerima kabar dari adiknya, Dian Mulyana Hasibuan, pacar dari Farhan Gunawan. Ponsel pintar milik Farhan telah ditemukan di Gunung Bulusaraung dan diserahkan oleh tim SAR kepada keluarga pada Sabtu (17/1/2026).
“Dia (Farhan) kan ada smartwatch, kalau bisa ada yang melacak smartwatch-nya itu dia pakai yang Galaxy, kayak manalah caranya, supaya ada pertolongan yang cari dia,” ujar Pitri menirukan harapan keluarga, dilansir detikSulsel, Senin (19/1/2026).
Pitri mengaku smartwatch Farhan teridentifikasi masih aktif berdasarkan pengecekan ponsel korban. Ia berharap temuan tersebut dapat dijadikan acuan untuk melacak posisi Farhan. “Karena dari HP dia yang terhubung ke smartwatch-nya itu kan masih bergerak. Kemungkinan kan masih bisa dilacak yah dari situnya,” ungkap Pitri.
Kabar ini diterima Pitri dari adiknya yang berada di lokasi untuk memantau proses pencarian. Adiknya tersebut langsung berangkat ke Makassar usai mendapat kabar kecelakaan pesawat.
Tim SAR Tak Dengar Suara Minta Tolong
Sementara itu, tim SAR yang menemukan ponsel Kopilot Farhan Gunawan di kawasan Gunung Bulusarung, Pangkep, Sulawesi Selatan, tidak mendengar adanya suara minta tolong atau pergerakan di lokasi penemuan.
Staf Search Mission Coordinator (SMC) Basarnas, Arman, menyatakan, “Tim kami yang turun di lokasi dan yang menemukan barang ini itu tidak ada sama sekali mendengar atau ada permintaan tolong suara dan lain sebagainya.”
Arman menjelaskan bahwa tim pencarian dibagi menjadi dua. Satu tim berada di atas tebing dan tim lainnya menuruni tebing. “Yang menuruni tebing itu ada 10 orang. Memang tidak ada suara atau permintaan bantuan,” terangnya.
Ponsel Kopilot Farhan yang ditemukan sempat diserahkan ke pacar korban, namun kini telah diserahkan ke Polda Sulsel untuk dibuka kuncinya yang terkendala. Basarnas mengakui adanya aktivitas smartwatch Kopilot Farhan, namun belum dapat memastikan apakah itu tanda-tanda kehidupan.
Klarifikasi Kepala Basarnas: Data Lama
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI M. Syafi’i, memberikan klarifikasi resmi terkait rekaman langkah kaki di smartwatch milik kopilot pesawat ATR 42-500, Farhan Gunawan. Ia memastikan data tersebut bukan terekam setelah pesawat jatuh.
“Terkait dengan pergerakan yang dari smartphone, kita sudah dibantu oleh Polda Sulawesi Selatan. Dan yang bersangkutan (pihak keluarga korban) sudah dimintai keterangan,” ujar Syafi’i usai rapat bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Setelah dilakukan pembukaan kunci ponsel, terungkap bahwa rekaman langkah kaki tersebut berasal dari beberapa bulan lalu, saat korban masih berada di Yogyakarta. “Setelah dibuka, bahwa ternyata rekaman itu di beberapa bulan yang lalu waktu korban masih di Jogja. Dan itu sudah di-clear-kan tadi pagi,” sambungnya.
Syafi’i menambahkan bahwa pihak keluarga Farhan telah menerima penjelasan tersebut dan memahami harapan yang sempat muncul akibat informasi pergerakan langkah kaki. Ia juga memohon doa agar proses pencarian terus berjalan lancar.
“Mohon doanya saja, kita sudah mengerahkan banyak pesawat, mulai dari pesawat Boeing, ada tiga pesawat helikopter sekarang kita modifikasi cuaca mudah-mudahan cuaca membaik,” imbuh Syafi’i.






