Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memutuskan untuk membatasi operasional fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, Jakarta Utara, hanya 750 ton sampah per hari. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap keluhan warga yang masih merasakan bau tidak sedap akibat aktivitas pengolahan sampah di lokasi tersebut. Pembatasan ini merupakan bagian dari upaya penanganan sambil menunggu hasil evaluasi menyeluruh terhadap pengoperasian RDF Rorotan.
Evaluasi Kapasitas dan Sumber Bau
Pramono Anung menjelaskan bahwa pada kapasitas 750 ton per hari, bau dari fasilitas RDF Rorotan sebenarnya tidak terdeteksi. Namun, ketika kapasitas ditingkatkan hingga 1.000 ton, sebagian kecil bau mulai tercium oleh warga. “Ketika kapasitasnya 750 ton per hari, sebenarnya tidak ada bau. Tapi begitu dinaikkan sampai 1.000 ton, sebagian kecil mulai tercium bau,” ujar Pramono di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, Selasa (3/1/2026).
Lebih lanjut, Pramono mengklarifikasi bahwa sumber utama bau bukanlah dari proses pengolahan di dalam mesin RDF, melainkan dari proses pengangkutan sampah menuju lokasi. Air lindi yang tercecer selama perjalanan truk sampah diidentifikasi sebagai penyebab utama munculnya bau menyengat tersebut. “Persoalan bau yang utama itu sebenarnya di pengangkutan, karena air lindinya tercecer ke mana-mana,” ungkapnya.
Solusi Pengangkutan Sampah
Menyikapi persoalan ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengambil keputusan strategis dengan menggunakan armada dump truck baru yang diproduksi pada tahun 2025. Selain itu, jumlah armada truk kompaktor juga akan ditambah. Penggunaan truk baru ini diharapkan dapat meminimalkan ceceran air lindi selama proses pengangkutan sampah. “Untuk sementara commissioning tidak lebih dari 750 ton per hari dan kami gunakan dump truck yang baru,” tegas Pramono.
Sebelumnya, Pramono Anung sempat meminta agar kegiatan operasional fasilitas RDF Rorotan dihentikan sementara. Permintaan ini muncul menyusul adanya protes dari warga terkait bau menyengat yang diduga kuat berasal dari aktivitas pengolahan dan pengangkutan sampah. “Dan mudah-mudahan, untuk sementara ini, saya minta untuk disetop. Mudah-mudahan ini akan bisa mengatasi persoalan transportasi sampah yang ada di Rorotan ini,” kata Pramono saat ditemui di kawasan Rorotan, Jakarta Utara, pada Jumat (30/1).






