Aktris Aurelie Moeremans akhirnya memilih untuk bersuara mengenai pengalaman traumatisnya menjadi korban grooming. Ia menceritakan kisah pahit tersebut melalui sebuah buku digital berjudul Broken Strings, yang ditulisnya sendiri.
Keberanian di Balik Ketakutan
Aurelie mengakui bahwa rasa takut sempat menghantuinya sebelum memutuskan untuk mempublikasikan buku tersebut. Namun, ada dorongan kuat yang membuatnya berani untuk berbagi. Pengalaman child grooming yang dialaminya sejak usia 15 tahun, ditambah dengan kekerasan seksual, fisik, serta ancaman, menjadi luka mendalam yang tidak mudah untuk ia lalui dan lepaskan dari sang pelaku.
Dalam percakapannya dengan detikcom melalui pesan singkat pada Rabu (14/1/2026), aktris yang kini menetap di Amerika Serikat ini mengungkapkan bahwa banyak bab dalam bukunya yang terasa sangat berat untuk ditulis. “Banyak sih Kak, chapters yang berat, hampir semuanya berat. Mungkin chapter pertama yang berat itu chapter 4, dan alasannya karena aku selama ini berusaha untuk melupakan kejadian itu karena sangat traumatic,” ujarnya.
Perjuangan Menulis dan Alasan Tetap Bertahan
Menulis chapter empat yang diberi judul Dentang Rantainya, Aurelie Moeremans harus kembali menggali dan mengingat kembali luka masa lalunya. Sebagai istri dari Tyler Bigenho, ia mengaku sempat ingin berhenti menulis karena beban emosional yang dirasakannya. “Tapi setiap kali ingin menyerah, aku ingat alasan awal kenapa aku menulis, yaitu untuk jujur pada diri sendiri dan bertahan,” ungkapnya.
Setelah buku Broken Strings selesai ditulis dan dipublikasikan, Aurelie kembali merasakan ketakutan. Ia menegaskan bahwa buku ini adalah kisah nyata yang dialaminya dan menyadari bahwa akan ada beragam respons dari publik, baik yang pro maupun kontra.
Strategi Publikasi dan Niat Mulia
Awalnya, Aurelie memilih untuk mempublikasikan versi bahasa Inggris dari bukunya. Keputusan ini diambilnya dengan harapan agar tidak terlalu banyak orang yang membaca, mengingat trauma dari pengalaman sebelumnya saat mencoba berbagi cerita namun respons yang diterima tidak sesuai harapan. “Aku merasa kalau dirilis dalam bahasa Inggris, pembacanya akan lebih terkurasi,” ucapnya.
Namun, bintang film Story of Dinda: Second Chance of Happiness ini tidak menutup mata terhadap potensi reaksi yang akan muncul. Ia meyakini kebenaran dari apa yang ditulis dalam Broken Strings. “Aku sadar sejak awal bahwa ketika kita jujur, pasti akan ada reaksi yang beragam. Tapi, niat utamaku bukan untuk menyenangkan semua orang, melainkan untuk membantu mereka yang membutuhkan,” tuturnya.
Aurelie Moeremans menegaskan kesiapannya menghadapi segala risiko. “Selama yang kutulis adalah kebenaran dan tujuannya baik, aku siap dengan risikonya. Fokusku tetap pada dampak positif yang bisa dihasilkan, bukan pada penolakan yang mungkin muncul,” tegasnya.
Pesan untuk Korban Lain
Melihat reaksi positif dan banyaknya pesan dari perempuan serta orang tua yang merasa terbantu dan tercerahkan oleh bukunya, rasa takut Aurelie perlahan berubah menjadi rasa syukur. Ia memberikan pesan semangat bagi para perempuan yang mengalami nasib serupa, terjerumus karena grooming, untuk bangkit.
“Kamu tidak sendirian dan apa pun yang pernah terjadi padamu bukan salahmu. Kamu berhak sembuh, berhak bahagia, dan berhak punya masa depan yang lebih baik,” pesan Aurelie Moeremans.






