Berita

Aiptu Suwendi, Sang Penggerak Kemandirian Pangan di Desa Megu Gede Cirebon

Advertisement

Aiptu Suwendi, seorang Bhabinkamtibmas di Desa Megu Gede, Polsek Weli, Polresta Cirebon, telah menjadi motor penggerak kesadaran kemandirian pangan bagi warga desa. Inisiatifnya membuahkan hasil nyata, terlihat dari maraknya kolam budidaya ikan di pekarangan rumah dan terbentuknya Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat.

Budidaya Ikan: Inisiatif Aiptu Suwendi

Kaur Keuangan Desa Megu Gede, Nada Ikrima, menceritakan bagaimana Aiptu Suwendi menggagas program budidaya ikan air tawar. “Kita awalnya dari Pak Wendi menggagas budidaya ikan. Jadi desa sendiri ketahanan pangannya itu ambilnya ikan, yang dipelopori oleh Pak Wendi untuk pembelajaran awalnya. Pembesaran bibit (ikan), ngasih makan, rentang airnya, ketika air itu keruh dan harus diganti, diajarin semua itu,” ujar Nada kepada detikcom, Rabu (4/2/2026).

Nada mengusulkan Aiptu Suwendi sebagai kandidat penerima Hoegeng Awards 2026 atas dedikasinya. Ia menjelaskan bahwa Aiptu Suwendi tidak hanya mengajari cara budidaya, tetapi juga seluruh aspek teknisnya. “Akhirnya dari kegiatan-kegiatan tersebut beberapa masyarakat di Desa Megu Gede mengelola ikan,” tambah Nada.

Program budidaya ikan ini telah berjalan sejak 2023 dan kini beberapa warga berhasil memiliki 5 hingga 8 kolam ikan di rumah mereka. Budidaya ini tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan tambahan yang signifikan. “Mereka tertarik, di beberapa tempat di desa sini (budidaya ikan) pakai terpal juga. Sampai penjualan berjalan semua,” ungkap Nada.

Nada sendiri termasuk salah satu dari enam warga yang aktif menekuni budidaya ikan ini. Ia mengaku terinspirasi oleh Aiptu Suwendi yang, meskipun bertugas di desa lain, memiliki kepedulian mendalam terhadap kemandirian masyarakat.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Megu Gede

Selain budidaya ikan, Aiptu Suwendi juga berperan dalam mendirikan Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Megu Gede. Nada Ikrima juga bergabung dalam KWT ini. Meskipun dampak ekonominya tidak sebesar budidaya ikan, KWT tetap aktif dalam kegiatan penanaman.

Anggota KWT menanam berbagai jenis sayuran seperti jagung ungu, cabai, kangkung, dan caisim. Hasil panen dapat dijual melalui grup WhatsApp atau dibeli langsung oleh warga. “Ya minimal buat wanita tani ini bisa pakai sendiri hasilnya, buat konsumsi masing-masing,” ujar Nada mengenai kendala lahan yang terbatas.

Pendapatan dari penjualan hasil pertanian dimanfaatkan untuk kebutuhan pribadi anggota dan disisihkan ke kas KWT. Proses tanam membutuhkan waktu sekitar 3 bulan, dan karena kondisi tanah, penanaman hanya bisa dilakukan dua kali setahun. “Penghasilannya yang lebih tahu detailnya bendahara KWT, karena saya anggota di dalamnya, hanya pernah tahu saat dijual kegiatan ekspos petani di angka Rp 1 jutaan,” jelas Nada.

Advertisement

Motivasi Aiptu Suwendi

Menanggapi hal ini, Aiptu Suwendi menjelaskan bahwa program budidaya ikan ini merupakan upaya sederhana untuk meningkatkan perekonomian warga. Ia telah menekuni budidaya ikan selama tujuh tahun sebelum mengembangkannya ke desa binaannya.

“Saya itu lihat orang, akhirnya saya tertarik, saya bikin dulu samping rumah, cuma satu biji. Karena saya Bhabin dengan adanya di desa itu ketahanan pangan akhirnya saya kembangkan ke desa binaan. Itu isinya sama, nila, patin, gurami,” kata Aiptu Wendi kepada detikcom.

Aiptu Wendi tidak hanya membina warga Desa Megu Gede, tetapi juga warga di Desa Plumbon, tempat tinggalnya. Ia menyebutkan bahwa program ini mendapat dukungan dari Kapolresta Cirebon saat itu, Kombes Sumarni, yang kini menjabat sebagai Kapolres Metro Bekasi.

Satu kolam ikan berdiameter 4 meter dapat menampung 400-500 bibit ikan dan siap panen dalam waktu sekitar 8 bulan. Harga jual ikan bervariasi, mulai dari Rp 25 ribu untuk patin, Rp 35 ribu untuk nila, hingga Rp 55 ribu untuk gurami. “Pas tahun baru kemarin habis 1,5 kwintal,” ungkapnya.

Aiptu Wendi menekankan pentingnya menikmati proses budidaya terlebih dahulu. “Saya ajarkan jangan pernah mikirin soal jual, suka dulu kalau mau budidaya ikan. Kita butuh ikan segar atau bukan? Kalau butuh ikan segar, kita harus ada balong. Jadi ibu-bapak bisa, makannya enak. Saya awalnya seperti itu, kata saya. Setelah kayak gitu berkembang, akhirnya bisa jual,” tuturnya.

Hingga kini, belasan warga telah mengembangkan budidaya ikan kolam terpal ini, dan Aiptu Wendi siap membantu jika ada kendala. Ia terus berupaya agar warga dapat memanfaatkan lahan kosong untuk kegiatan yang memiliki nilai ekonomi, termasuk bercocok tanam di pekarangan rumah.

Advertisement