Kasus dugaan wanprestasi yang melibatkan aktor Adly Fairuz terkait ‘pengurusan’ masuk Akademi Kepolisian (Akpol) masih bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pihak Adly Fairuz mendesak penggugat untuk mencabut gugatan yang dinilai berlarut-larut akibat sulitnya menemukan alamat para turut tergugat.
Desakan Pencabutan Gugatan
Kuasa hukum Adly Fairuz, Andy Gultom, menyatakan bahwa kliennya merasa dirugikan secara waktu dan mental akibat kasus yang menggantung tanpa kepastian ini. Ia menilai ketidakjelasan alamat para turut tergugat, yang diduga buron, menjadi alasan kuat bagi penggugat untuk menghentikan perkara sementara waktu.
“Kami meminta agar Majelis, apabila gugatan ini tidak bisa dijalankan, dari saran kami adalah agar segera dicabut untuk melakukan gugatan baru,” tegas Andy Gultom di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (19/2/2026). Pihak Adly Fairuz berpendapat penggugat terkesan memaksakan perkara yang secara administrasi belum siap.
Andy Gultom menambahkan bahwa kesibukan kliennya banyak terganggu akibat isu yang terus berembus selama persidangan. “Karena terlalu lama kami sebagai kuasa hukum dari klien kami, banyak pekerjaan klien kami yang tertunda akibat gugatan ini. Jangan terlalu lama untuk mencari-cari alamat yang penggugat duga seperti itu,” ujarnya.
Penggugat Tegas Tak Akan Mundur
Menanggapi desakan tersebut, Maman Ade Rukiman, kuasa hukum pihak penggugat, menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur sebelum ada penyelesaian terkait kerugian yang dialami kliennya. “Ya kalau untuk cabut-cabut sih sekarang pun kami bisa cabut, tapi urusannya penyelesaiannya seperti apa? Dibayar atau tidak? Tujuan kami melakukan gugatan itu kan untuk supaya wanprestasi itu diselesaikan ya, dibayar kan,” balas Maman.
Perbedaan Angka Kerugian
Konflik ini juga dipicu oleh perbedaan nominal pembayaran. Pihak Adly Fairuz mengklaim hanya menerima uang sebesar Rp 300 juta dan telah mengembalikan Rp 500 juta sebagai itikad baik. Namun, penggugat menilai angka tersebut masih jauh dari total kerugian yang mencapai Rp 3,6 miliar.
Meisa, tim kuasa hukum penggugat lainnya, menyatakan bahwa mereka memiliki bukti-bukti kuat yang akan dibuka saat agenda pembuktian. “Jangan tergesa-gesa minta cabut. Haknya belum terpenuhi semua ini. Wanprestasi ini baru dari Rp 3,6 miliar dibilang sudah Rp 500 (juta), itu jauh banget kan? Kita punya bukti-bukti pesan yang belum kita beberkan ke media, nanti kita buka di depan Majelis Hakim,” tegas Meisa.






