— Indeks-indeks utama Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis (9/7/2026), didorong reli saham semikonduktor dan pelemahan harga minyak di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan lonjakan 1,30% ke level 26.206,89. Indeks S&P 500 naik 0,81% menjadi 7.543,64, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 139,02 poin atau 0,27% ke posisi 52.487,41.

Pergerakan Sektor dan Bursa Regional

Sektor semikonduktor menjadi motor penguatan pasar. ETF VanEck Semiconductor (SMH) melonjak 2,5%, didorong antara lain oleh kenaikan saham Micron Technology sebesar 4,5% dan lonjakan saham Sandisk sebesar 7,6%.

Di Eropa, indeks pan-Eropa Stoxx 600 ditutup naik 0,8% selagi investor mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Di Asia, Nikkei 225 Jepang menguat 1,4% dan Kospi Korea Selatan naik 0,62%. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong turun 0,5% sementara CSI 300 China daratan melonjak 2,5%.

Geopolitik dan Dampak Harga Energi

Dari sisi geopolitik, Komando Pusat AS (US Central Command) menyatakan Washington kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk hari kedua berturut-turut. Serangan dilakukan setelah Teheran menyerang kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz, yang mengganggu lalu lintas pelayaran di jalur perdagangan energi tersebut.

Meski ketegangan meningkat, harga minyak justru melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran telah menghubungi Washington untuk mencapai kesepakatan. Upaya mediasi juga disebut melibatkan Qatar dan Pakistan untuk membawa kedua negara kembali ke meja perundingan.

Risiko Inflasi

Megan Horneman, Chief Investment Officer Verdence Capital Advisors, memperingatkan ketidakpastian geopolitik menjadi ancaman bagi pasar. “Situasi ini sangat inflasioner dan penuh ketidakpastian. Konflik bisa berakhir besok atau justru berkembang menjadi lebih besar. Karena itu, investor perlu memiliki portofolio yang terdiversifikasi secara global,” kata Horneman.

Horneman menilai pasar saham kemungkinan akan tetap volatil karena investor mulai terbiasa dengan dinamika konflik yang bergejolak. Ia juga menyebut pasar belum sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The Fed setidaknya satu kali pada paruh kedua 2026.

Menurut Horneman, masalah inflasi kemungkinan berlanjut hingga akhir tahun dan bukan hanya dipicu oleh harga minyak. Ia menambahkan bahwa investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat membantu menekan inflasi dalam jangka panjang, namun pertumbuhan ekonomi yang kuat dan konsumsi yang tinggi masih menjadi pendorong inflasi dalam jangka pendek.