Berita7 — Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya peningkatan kesadaran publik terhadap edukasi mitigasi bencana sebagai upaya kunci meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi daring bertema “Peningkatan Aktivitas Seismik di Pasifik Implikasi dan Langkah Antisipatif Bagi Indonesia” yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (15/7/2026).
Diskusi menghadirkan narasumber dari berbagai lembaga terkait, membahas dinamika kegempaan sepanjang Cincin Api Pasifik serta langkah antisipatif yang perlu diambil pemerintah dan masyarakat.
Dalam sambutannya, Lestari menyatakan bahwa upaya antisipatif harus menyentuh berbagai aspek, mulai dari infrastruktur hingga kesiapsiagaan publik. “Langkah antisipatif terhadap ancaman bencana di tanah air harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari penguatan infrastruktur, optimalisasi teknologi, hingga kesiapsiagaan masyarakat,” kata Lestari Moerdijat, Rabu (15/7/2026).
Menurut Lestari, memasuki pertengahan 2026 aktivitas kegempaan di sepanjang Cincin Api Pasifik menunjukkan dinamika yang sangat tinggi, ditandai dengan rentetan gempa bermagnitudo besar yang melanda beberapa wilayah dan mengancam keselamatan masyarakat. Ia mengatakan pemerintah perlu mempersiapkan infrastruktur serta meningkatkan pemahaman masyarakat tentang upaya menghadapi dampak bencana melalui berbagai langkah.
Selain penguatan infrastruktur dan teknologi, Lestari juga mendorong penguatan kerja sama lintas sektor untuk memperkokoh kesiapsiagaan masyarakat. “Berharap agar aktivitas seismik yang terus terjadi dapat diantisipasi dengan mekanisme ketahanan adaptif masyarakat,” jelasnya.
Data Gempa dan Sumbernya
Dalam sesi paparan, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto memaparkan catatan kejadian gempa di Indonesia. “Pada sepanjang 2025 tercatat 43.439 kejadian gempa di Tanah Air,” ujarnya, seraya menekankan bahwa gempa tidak dapat diprediksi sehingga kesiapsiagaan masyarakat menjadi krusial.
Wijayanto menjelaskan bahwa sumber gempa di Indonesia terutama berasal dari dua mekanisme: subduksi lempeng (megathrust) dan sesar atau patahan lempeng aktif. “Zona megathrust di Indonesia terdapat 14 segmen yang berpotensi menyebabkan gempa dengan magnitudo di atas 8,5,” tuturnya.
Untuk itu, Wijayanto menekankan perlunya langkah antisipasi yang konsisten, termasuk pemanfaatan peta rawan bencana, penguatan sistem informasi bencana, dan penyusunan mitigasi yang mudah dipahami publik. “Dampak dari gempa itu dapat berupa longsor, likuifaksi, tsunami, runtuhan batu, dan efek ikutan lainnya yang dapat menimbulkan korban jiwa,” jelasnya.
Risiko Tsunami dan Sistem Peringatan
Peneliti Senior Bidang Tsunami BRIN Widjo Kongko menyatakan proporsi penyebab tsunami global dan sejarah kejadian yang berdampak pada Indonesia. Ia menyebutkan, “60% tsunami terjadi karena dipicu gempa tektonik dan 22% disebabkan gempa vulkanik.”
Widjo Kongko menambahkan bahwa sepanjang 300 tahun (1700-2022) terdapat 13 kejadian tsunami besar di kawasan Samudera Pasifik yang berdampak pada Indonesia. Di level nasional, ia menjelaskan bahwa Indonesia telah memanfaatkan Ina TEWS sejak 11 November 2008. Alat ini mampu memberi peringatan tsunami kurang dari 3 menit agar masyarakat dapat segera menghindar.
Namun, Widjo menyampaikan tantangan besar: 60% kota-kota di Indonesia berada di pesisir pantai yang rawan tsunami. Ia juga mengingatkan bahwa sejumlah wilayah penting seperti PLTU, kawasan industri, dan destinasi pariwisata turut berada di pesisir sehingga menjadi perhatian khusus.
Menutup pemaparannya, Widjo Kongko menegaskan pentingnya pemahaman risiko oleh masyarakat dan penguatan sistem peringatan dini. “Pemahaman masyarakat akan bahaya dan risiko, serta sistem peringatan dini yang tangguh harus menjadi perhatian serius semua pihak, sebagai bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.”
Diskusi tersebut dimoderatori Tim Ahli Wakil Ketua MPR RI Tantri Moerdopo dan menampilkan narasumber lainnya, yakni Analis Kebencanaan Ahli Madya di Direktorat Optimasi Jaringan Logistik Dan Peralatan Kedeputian Logistik dan Peralatan BNPB Maryanto; Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto; dan Peneliti Senior Bidang Tsunami BRIN Widjo Kongko.
Ikuti Berita7
