Tapanuli Selatan – Suasana khidmat bulan Ramadan terasa berbeda bagi ratusan warga korban banjir bandang di Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara. Mereka terpaksa menjalani ibadah sahur pertama pada Kamis (19/2/2026) di tenda-tenda pengungsian darurat, jauh dari rumah yang telah hancur diterjang banjir akhir November 2025 lalu.
Para penyintas bencana yang berasal dari Desa Huta Godang dan Garoga ini mendatangi dapur umum di Posko Bencana Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, dengan membawa tempat makan. Nasi dan lauk pauk yang dimasak di dapur umum menjadi pilihan utama untuk santap sahur.
Meskipun demikian, beberapa warga juga memilih memasak sendiri di tenda-tenda pengungsian mereka. Marlan Hutauruk, salah seorang korban, mengungkapkan rasa rindunya akan suasana sahur di rumah.
“Kalau dahulu lebih nyaman tentunya sebab kami berada di rumah sendiri, sekarang kondisi kami seperti ini,” ujarnya saat santap sahur bersama istri dan warga lainnya di pos pengungsian.
Khoiruddin Simatupang, penyintas lainnya, juga merasakan hal serupa. Ia mengaku sudah hampir tiga bulan berada di pengungsian dan merindukan suasana Ramadan di rumah.
“Ini hari pertama kami Ramadan di pengungsian. Kami di sini sudah hampir tiga bulan setelah bencana,” katanya.
Posko dapur umum di Desa Batu Hula menyediakan santap sahur bagi 220 kepala keluarga yang mengungsi di tiga titik lokasi, baik di tenda biru, putih, maupun di bengkel warga.
Penjaga posko dapur umum, Resdi Nasution, menjelaskan bahwa pada hari pertama Ramadan ini, dapur umum menyediakan nasi dan mi instan. Ia menambahkan bahwa sebagian besar pengungsi sudah memiliki lauk pauk berupa daging sapi sumbangan yang dimasak sehari sebelumnya.
“Sekarang kami menyediakan nasi, sama mi instan, karena yang ada hanya itu,” jelas Resdi.
Resdi menambahkan bahwa kesibukan dapur umum kini tidak seramai awal bencana. Banyak pengungsi yang sudah memiliki penanak nasi sendiri di lokasi pengungsian masing-masing. Namun, dapur umum tetap beroperasi untuk memastikan ketersediaan makanan bagi mereka yang masih bergantung.
“Kami tetap menyediakan nasi dan lauknya, karena ada juga yang masih bergantung di dapur umum,” tuturnya.






