— Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Rabu, 8 Juli 2026. Kurs ditutup pada level Rp 18.014 per dolar AS, turun 34 poin atau 0,19% dari penutupan sebelumnya di Rp 17.980 per dolar AS.

Pada pembukaan pagi, rupiah sudah bergerak melemah 7 poin (0,04%) ke level Rp 17.987 per dolar AS. Pelemahan berlanjut hingga sore hari dan mendorong rupiah menembus level Rp 18.000.

Faktor Pemicu

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan pelemahan rupiah dipicu oleh memburuknya sentimen geopolitik di Timur Tengah. Menurut Ibrahim, kembalinya permusuhan dan potensi gangguan pelayaran di Selat Hormuz mendorong kekhawatiran terhadap suplai energi.

“Kembalinya permusuhan dan tanda-tanda masalah pelayaran yang lebih besar di Hormuz kembali memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026).

Ibrahim juga menyoroti pergeseran perhatian pasar ke arah notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Juni yang akan dirilis malam nanti. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memberi tekanan; imbal hasil obligasi 10 tahun tercatat naik 5,5 basis poin menjadi 4,525%.

Daya Dorong Domestik

Dari sisi domestik, rupiah tertekan seiring realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semester I-2026 yang tercatat Rp 196,5 triliun atau setara 0,76% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Posisi tersebut meningkat dari Mei 2026 yang sebesar Rp 180,4 triliun atau 0,70% terhadap PDB.

Secara tahunan, defisit semester I-2026 sebenarnya lebih rendah dibanding periode sama tahun sebelumnya, yakni turun menjadi 0,76% dari 0,84% terhadap PDB.

Cadangan Devisa

Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi US$ 145,6 miliar dari US$ 144,9 miliar pada akhir Mei 2026. Meski naik, level ini masih berada dekat titik terendah dalam dua tahun terakhir menurut catatan yang dirilis.