— Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tekanan pada perdagangan Rabu (8/7/2026), ditutup melemah 34 poin (0,19%) ke posisi Rp 18.014 per dolar AS dari penutupan sehari sebelumnya Rp 17.980 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan mata uang domestik masih berpotensi melemah pada perdagangan Kamis (9/7/2026) dengan rentang pergerakan yang lebih sempit namun diakhiri pada posisi lebih rendah.

Pendorong Pelemahan

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.010 – Rp 18.060,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026).

Ibrahim menyebutkan sentimen eksternal menjadi pemicu utama pelemahan, termasuk meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran di kawasan Timur Tengah. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 5,5 basis poin menjadi 4,525% turut menambah tekanan pada rupiah.

“Para pedagang sekarang mengalihkan perhatian mereka ke notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di bulan Juni, yang akan dirilis nanti malam pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB, untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang pemikiran The Fed, sementara nada komunikasi di bawah Ketua baru Kevin Warsh juga akan menjadi fokus perhatian,”

Data Fiskal dan Cadangan Devisa

Dari sisi domestik, Ibrahim mengaitkan pelemahan rupiah dengan kondisi fiskal. APBN mencatat defisit pada semester I-2026 sebesar Rp 196,5 triliun atau setara 0,76% dari produk domestik bruto (PDB), meningkat dari posisi Mei 2026 yang tercatat Rp 180,4 triliun atau 0,70% terhadap PDB.

“Namun, sejumlah ekonom menilai posisi ini sudah menjadi sinyal peringatan dini atas meningkatnya tekanan terhadap APBN, terutama jika dilihat dari dinamika yang berkembang di awal tahun. Dalam struktur APBN saat ini, pelemahan nilai tukar justru lebih cepat mendorong kenaikan belanja dibandingkan penerimaan negara. Kondisi ini pada akhirnya mempersempit ruang fiskal pemerintah,” ujar Ibrahim.

Ibrahim juga mencatat bahwa meski cadangan devisa Indonesia meningkat pada akhir Juni 2026 menjadi US$ 145,6 miliar dari US$ 144,9 miliar pada akhir Mei 2026, posisi tersebut masih berada di dekat level terendah dalam dua tahun terakhir, sehingga tidak sepenuhnya meredam risiko pelemahan rupiah.