Berita7 — Sektor perdagangan menjadi penyumbang terbesar terhadap penerimaan pajak pada semester I-2026, demikian disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Realisasi penerimaan pajak pada periode tersebut mencapai Rp 1.035,7 triliun, di mana perdagangan memberikan andil 25,6% dengan pertumbuhan 45,9% secara tahunan.
Purbaya menyatakan kinerja sektor perdagangan didorong oleh dua faktor utama: kenaikan harga bahan bakar minyak seiring meningkatnya harga komoditas global dan berkembangnya aktivitas perdagangan digital.
Kontribusi Sektor Lain
Sektor industri pengolahan menempati posisi kedua dalam kontribusi penerimaan pajak, menyumbang 22,8% dan mencatat pertumbuhan 19,9% pada semester I-2026. Menurut Purbaya, pertumbuhan ini terutama ditopang oleh subsektor industri minyak kelapa sawit yang menikmati kenaikan harga dan peningkatan profitabilitas.
Sektor pertambangan mencatat pertumbuhan 22,8% dengan kontribusi 9,3% terhadap penerimaan pajak. Purbaya menyebut kontribusi positif dari sektor pertambangan terutama berasal dari subsektor minyak dan gas.
Sektor Konstruksi, Pengangkutan, dan Jasa
Sektor konstruksi dan real estat melaporkan pertumbuhan 9,2% dengan kontribusi 3,7%. Sementara itu, sektor pengangkutan dan pergudangan tumbuh 10,7% dan menyumbang 4,3% terhadap penerimaan pajak.
Sektor jasa perusahaan tercatat tumbuh 14,7% dan memberikan kontribusi sebesar 3,2%.
Kelompok Pajak Lainnya
Kelompok jenis pajak lainnya tumbuh 18,3% dan memberikan kontribusi terbesar kedua, yakni 31,2% terhadap total penerimaan pajak semester I-2026.
Purbaya menyimpulkan bahwa pertumbuhan yang tersebar di berbagai sektor menunjukkan basis penerimaan negara semakin kuat dan tidak lagi bergantung pada satu sektor tertentu.
“Seluruh pertumbuhan yang lebih merata ini menjadi indikasi bahwa basis penerimaan negara semakin kuat dan tidak hanya bergantung pada satu sektor tertentu,” pungkas Purbaya.
Ikuti Berita7
