— Berinvestasi sejak usia muda memberi keuntungan jangka panjang yang signifikan, menurut sejumlah praktisi pasar modal dan pelaku industri keuangan. Manfaatnya meliputi percepatan pencapaian kebebasan finansial serta perlindungan terhadap penurunan daya beli akibat inflasi.

Pemaparan tersebut disampaikan dalam diskusi bertema Literasi Keuangan Mahasiswa: Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas, yang digelar di Jakarta. Para pembicara memaparkan contoh konkret performa aset dan menyarankan langkah praktis untuk memulai investasi sejak dini.

Contoh Keberhasilan Investasi

Dalam sesi diskusi dipaparkan beberapa ilustrasi untuk menggambarkan potensi imbal hasil. Salah satu contoh menyoroti saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang sejak IPO pada 2000 mengalami kenaikan drastis—setelah memperhitungkan stock split—dengan capital gain yang sangat besar.

Contoh lain yang diangkat adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang sejak IPO 2023 mencatat kenaikan signifikan. Selain saham, aset kripto dan komoditas juga disebut memiliki potensi return tinggi, meski dibarengi risiko yang perlu dipahami oleh investor.

Enam Alasan Mulai Berinvestasi Dini

Vier Abdul Jamal, praktisi pasar modal, merinci manfaat berinvestasi di usia muda. Pertama, kebebasan finansial bisa dicapai lebih cepat dibanding memulai di usia matang. Kedua, keuntungan investasi berkembang seiring waktu sehingga modal awal kecil pun bisa tumbuh besar.

Ketiga, investasi melatih pola pikir jangka panjang, mendorong disiplin dan pengelolaan risiko. Keempat, investasi membantu melawan inflasi yang menggerus nilai uang jika hanya disimpan tanpa berkembang.

Kelima, investasi dini memberi kesempatan belajar dari kesalahan kecil sehingga pengalaman terbentuk lebih awal. Keenam, berinvestasi memungkinkan pembangunan aset produktif yang menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan.

Perbedaan Budaya Investasi

Vier juga menyoroti perbedaan budaya investasi antara kawasan seperti Amerika Serikat dan Eropa dengan Indonesia. Di beberapa negara barat, investasi dipandang sebagai kebutuhan rutin sejak usia muda, dengan fokus pada strategi seperti compounding, reinvestasi dividen, dan dollar cost averaging.

Sementara di Indonesia, menurutnya, orientasi masyarakat masih banyak pada tabungan dan deposito, serta kecenderungan mencari keuntungan cepat yang memicu perilaku jual saat pasar turun dan beli saat harga sudah naik.

Prospek Kripto dan Saham

Andy Putra menegaskan urgensi bagi mahasiswa untuk memulai investasi di instrumen legal dan menjauhi praktik judi online. Ia menilai prospek aset kripto tetap menjanjikan dan memaparkan ilustrasi kenaikan harga Bitcoin sejak 2010 sebagai contoh potensi imbal hasil jangka panjang.

Andy menyampaikan bahwa kripto kini telah berada dalam payung regulasi tertentu sejak 2025, dan menjadi instrumen yang populer di kalangan investor muda karena fitur pasar yang dinamis dan aksesibilitas modal yang relatif rendah.

Hari Mantoro menambahkan bahwa investasi sejak dini penting untuk menjaga daya beli terhadap inflasi. Ia memberi contoh perbandingan harga kendaraan pada 1991 dan 2026 untuk menggambarkan erosi nilai uang dari waktu ke waktu dan pentingnya beralih dari budaya menabung semata ke investasi.

Peran Korporasi dan Keamanan Digital

Perusahaan teknologi keamanan siber juga ikut mendukung penguatan literasi keuangan dengan menyediakan solusi keamanan untuk ekosistem investasi digital. Patrick Dannacher memaparkan peran perusahaan dalam melindungi sistem, data, dan layanan yang digunakan oleh pelaku dan pengguna jasa keuangan digital.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap platform investasi digital, sehingga lebih banyak masyarakat berani memanfaatkan layanan keuangan secara aman.

Dukungan Perbankan terhadap Literasi

Perbankan turut terlibat dalam agenda literasi keuangan melalui dukungan kegiatan edukasi. Direktur Human Capital & Compliance BNI menekankan bahwa literasi adalah fondasi kesejahteraan finansial dan merujuk data survei yang menunjukkan kondisi indeks literasi yang masih perlu ditingkatkan.

Dalam penutup diskusi, para pembicara mengimbau generasi muda untuk memulai investasi secara bertahap, memahami risiko, dan memilih instrumen legal sebagai langkah membangun kestabilan finansial jangka panjang.