— Berinvestasi sejak usia muda menjadi pesan utama diskusi literasi keuangan yang digelar Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Nagekeo (Himapen) di Jakarta, Rabu (8/7/2026). Para pembicara menekankan bahwa investasi awal membantu percepatan kebebasan finansial dan menjaga daya beli dari tekanan inflasi.

Dalam acara tersebut, praktisi pasar modal, pelaku industri kripto, dan perwakilan korporasi berbagi alasan dan strategi bagi mahasiswa agar mengalihkan dana dari praktik judi online menuju instrumen investasi legal seperti saham, kripto, dan komoditas.

Manfaat Investasi Dini

Vier Abdul Jamal, praktisi pasar modal, mengingatkan bahwa waktu adalah aset terpenting. “Semakin dini seseorang mulai berinvestasi, makin besar efek pertumbuhan yang bisa didapat di masa depan,” ujar dia.

Ia merinci sejumlah manfaat investasi sejak muda: percepatan kebebasan finansial, pertumbuhan modal seiring waktu, pembentukan mindset jangka panjang, perlindungan terhadap inflasi, kesempatan belajar dari kesalahan kecil, serta pembangunan aset produktif lebih awal.

Vier juga menekankan bahwa investasi bukan jalan pintas menuju kekayaan, melainkan proses konsisten: mulai dari kecil, reinvestasi, dan berpikir jangka panjang.

Bukti Dari Pasar

Untuk menggambarkan potensi imbal hasil, pembicara menyebut contoh saham dan aset kripto. Harga IPO saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada 2000 tercatat Rp1.400 per saham, sehingga investasi 10 lot saat itu bernilai Rp1,4 juta. Dengan memperhitungkan stock split 2001 dan 2021, kapital gain BBCA disebut mencapai 3.989%.

Satu contoh lain adalah saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang disebut memiliki kenaikan 296% sejak IPO 2023 hingga sekarang. Dalam aset kripto, ilustrasi kenaikan harga Bitcoin dari sekitar Rp73 pada 2010 menjadi sekitar Rp1,1 miliar per koin menjadi gambaran potensi return besar bagi pemegang awal.

Budaya Investasi: Perbandingan Internasional

Vier menguraikan perbedaan budaya investasi antara Indonesia, Amerika Serikat, dan Eropa. Menurutnya, di AS dan Eropa investasi dipandang sebagai kebutuhan hidup sehingga banyak orang muda mulai berinvestasi sejak 20-an dan menerapkan prinsip compounding, reinvestasi dividen, dollar cost averaging, serta alokasi aset.

Sebaliknya, ia menilai di Indonesia banyak masyarakat yang masih berfokus pada tabungan dan deposito, menganggap investasi sebagai opsi bagi orang kaya, serta kerap mencari keuntungan cepat sehingga orientasi jangka pendek dominan.

“Di Indonesia, penurunan kecil sering memicu kepanikan. Banyak investor baru menjual saat harga turun dan membeli saat harga naik,” kata Vier.

Prospek Kripto dan Saran Untuk Mahasiswa

Andy Putra, Presiden Direktur sebuah platform kripto, mendorong mahasiswa memulai investasi legal dan menghindari judi online. Ia menyebut kripto sebagai aset keuangan favorit generasi muda yang dinamis dan mudah diakses dengan modal kecil.

Andy mengambil contoh pergerakan harga Bitcoin dan menyatakan bahwa kripto sudah diregulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sejak 2025, dengan ketentuan pajak yang berbeda pada pembelian dan penjualan. Ia juga menyinggung tokenisasi aset sebagai contoh integrasi kripto ke bisnis riil.

Hari Mantoro menambahkan bahwa berinvestasi sejak dini penting untuk melindungi daya beli dari inflasi. Ia mencontohkan perubahan harga mobil dari Rp24,5 juta pada 1991 menjadi sekitar Rp438 juta untuk penerusnya pada 2026 sebagai ilustrasi erosi nilai uang.

Peran Korporasi dan Keamanan Digital

Odang Supriatna menyatakan inisiatifnya untuk mendorong distributor naik level menjadi profesional dan membantu mahasiswa mempersiapkan karier di bidang trading, pemrograman, serta investasi pintar.

Di sisi keamanan, Patrick Dannacher, president director PT ITSEC Asia Tbk, menyampaikan peran korporasi di sektor finansial bukan hanya menyediakan produk keamanan siber, melainkan membangun ekosistem investasi digital yang aman untuk menjaga kepercayaan pengguna.

Perusahaan tersebut menawarkan layanan seperti Security Operations Center 24/7, managed detection and response, penetration testing, cloud security, forensik digital, serta solusi berbasis AI untuk mengidentifikasi kerentanan sebelum dimanfaatkan pihak berbahaya.

Dukungan Perbankan untuk Literasi

Bank Negara Indonesia (BNI) ikut mendukung penguatan literasi keuangan melalui kegiatan edukasi, termasuk dukungan pada diskusi yang digelar Himapen. Mucharo, Direktur Human Capital & Compliance BNI, menyatakan literasi keuangan adalah fondasi kesejahteraan finansial dan merujuk pada data survei OJK 2022 yang menunjukkan indeks literasi Indonesia masih di bawah 50% meski membaik sejak 2019.

Diskusi ini menutup dengan seruan agar generasi muda mengganti budaya menabung semata dengan kebiasaan berinvestasi, memahami risiko, dan memanfaatkan waktu sebagai modal utama untuk membangun kekayaan jangka panjang.