Jakarta – Mantan pebulutangkis ganda putra peraih medali emas Olimpiade 1996 Atlanta, Rexy Mainaky, memberikan pandangannya mengenai cara menjaga mental juara pada atlet muda agar tidak mudah berpuas diri. Kunci utamanya terletak pada disiplin dan mindset atlet itu sendiri.
Momentum Positif Atlet Muda Indonesia
Perhelatan Indonesia Masters 2026 menjadi sorotan dengan penampilan gemilang sejumlah pebulutangkis muda Indonesia. Dua wakil muda, Alwi Farhan (20 tahun) dan ganda putra Raymond Indra/Nikolaus Joaquin (21/20 tahun), berhasil menembus partai final. Alwi keluar sebagai juara, sementara Raymond/Joaquin harus puas sebagai runner-up.
Kepala Tunggal Putra, Indra Widjaja, menekankan pentingnya menjaga momentum positif ini, terutama mengingat Olimpiade 2028 yang semakin dekat.
Tips Rexy Mainaky untuk Atlet Muda
Rexy Mainaky, yang kini menjabat sebagai Director of Doubles Badminton Association of Malaysia, membagikan tipsnya agar atlet muda tetap termotivasi dan berprestasi di level tertinggi.
“Berbicara tentang bagaimana pemain itu bisa konsisten, terutama pemain muda yang punya prospek atau potensi itu kembali kepada atlet itu sendiri,” ujar Rexy.
Menurut Rexy, 80 persen kesuksesan bergantung pada atlet. Mereka harus memiliki kesadaran diri untuk terus berlatih dan menjaga kondisi. “Bisa kita bilang 80 persen itu harus atlet. Dia harus bagaimana, dia harus sudah tahu. Kita sebagai pelatih, kasih program ini, harus ini, harus ini. Nah, besoknya pemain itu harus sudah tahu, ‘Oh besok saya latihan ini, jadi saya harus bisa konsisten. karena hari ini saya sudah konsisten? jadi saya harus bisa jaga diri, harus bisa semua,'” tuturnya.
Sisanya, 20 persen, adalah peran pelatih dalam mengedukasi dan membentuk cara berpikir atlet. “Nah, 20 persen itu baru pelatihnya. Bagaimana dia, mengedukasi pemainnya, cara berpikirnya. Sekarang kan bisa dibilang, banyak yang buat ini, itu, ada yang benar-benar fans,” tambah Rexy.
Menjaga Mental Juara dan Menghindari Kepuasan Diri
Rexy menekankan pentingnya menjaga mental juara dan mengingatkan para atlet muda agar tidak cepat merasa puas dengan pencapaian yang diraih.
“Kadang-kadang pemain itu akan terlena dan merasa sudah hebat. Dan itu bisa menjadi habit, makanya sebenarnya kembali ke para pemain itu. Bahwa saya punya future, saya main badminton apa, untuk masa depan saya. Jadi kembali lagi ke disiplin, mindset, dan bagaimana me-manage mentality champion itu,” jelas Rexy.
Ia menambahkan, ketenaran sesaat bisa menyesatkan jika tidak didasari oleh kerja keras dan disiplin. “Jadi tidak cuma, oh nama saya besar. Iya. Jadi kita sekarang nama besar senang. Sekarang kita bukan siapa-siapa. Kita taruh kita asli buat itu, tapi itu tiba-tiba nama sudah naik. Gampang sekarang.”
“Enggak ada usaha perlu ini. Tapi kalau sebagai atlet, dia harus tahu bagaimana saya mau menjadi nama besar di bidang saya ini. Bukan saya harus taruh kamera, saya taruh begini. Saya jadi nama besar. Tapi saya benar-benar harus disiplin. Sacrifice. Itu semua harus ada,” tegas Rexy.
(mcy/nds)






