— Nilai tukar rupiah diperkirakan melanjutkan tren pelemahan terhadap dolar AS pada perdagangan berikutnya setelah penutupan yang menurun tajam pada akhir sesi sebelumnya.

Pada penutupan Kamis (9/7/2026), rupiah melemah 114 poin atau 0,63% ke posisi Rp 18.128 per dolar AS dari Rp 18.014 per dolar AS pada penutupan sebelumnya.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 18.120 – Rp 18.180,” ujar Ibrahim Assuaibi, Direktur PT. Traze Andalan Futures, dalam keterangan tertulis.

Sentimen Eksternal Tekan Rupiah

Ibrahim menyebutkan beberapa faktor eksternal yang menekan prospek rupiah. Salah satunya adalah peningkatan ketegangan antara AS dan Iran setelah pernyataan Presiden AS mengenai kemungkinan serangan baru.

Selain itu, rilis risalah rapat The Fed untuk Juni juga mendorong ekspektasi pasar. “Risalah tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran di antara para bankir sentral mengenai inflasi yang kaku; sebuah tren yang dapat memicu kenaikan suku bunga di akhir tahun, terutama jika tekanan harga menunjukkan sedikit tanda-tanda pendinginan,” kata Ibrahim.

Faktor Domestik Memperburuk Tekanan

Dari sisi domestik, pelemahan rupiah juga dinilai berhubungan dengan percepatan pelaksanaan APBN pada semester pertama 2026. Pelaksanaan anggaran yang lebih cepat ini disebut menambah tekanan likuiditas di pasar valuta asing.

Ibrahim menambahkan, rilis hasil Survei Konsumen periode Juni 2026 memberikan sentimen negatif karena menunjukkan turunnya keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional.

Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 berada di level 117,8, turun dari 120,9 pada Mei 2026.

Pakar memperkirakan kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut akan membuat rupiah bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah pada perdagangan selanjutnya.