Polres Tangerang Selatan (Tangsel) berhasil menangkap seorang oknum guru berinisial YP (54) yang diduga melakukan pencabulan terhadap belasan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Serpong, Tangsel. YP diketahui merupakan wali kelas dari para korban.
Penangkapan Pelaku
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Tangsel, AKP Wira Graha Setiawan, menyatakan bahwa terduga pelaku ditangkap pada Senin (19/1/2026) sekitar pukul 19.00 WIB. Penangkapan ini dilakukan setelah pihaknya menerima laporan dari orang tua siswa pada pukul 15.00 WIB di hari yang sama.
“Kita terima laporan sekira pukul 15.00 WIB, selanjutnya kami lakukan pemeriksaan secara berkala dan sekitar pukul 19.00 WIB kita sudah amankan pelakunya,” ujar Wira kepada wartawan, Selasa (20/1/2026).
YP ditangkap di kediamannya di wilayah Kecamatan Ciputat, Tangsel. Ia kemudian dibawa ke Polres Tangsel untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
“Pelaku kita amankan di rumah terduga pelaku, kemudian kita lakukan pendekatan secara persuasif dan setelah itu langsung kita bawa,” tutur Wira. Ia menambahkan, “Kita bawa ke Polres Tangerang Selatan untuk kita dalami dalam proses penyelidikan dan penyidikan.”
13 Siswa Diduga Menjadi Korban
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Tangsel, Tri Purwanto, mengungkapkan bahwa ada 13 siswa yang diduga menjadi korban pencabulan oleh oknum guru tersebut. Sejumlah orang tua korban telah melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian.
“Kemarin yang datang orang tua ada 13 orang. Korban yang lapor ke Polres 9 orang. Kejadian dilakukan pencabulan terhadap anak,” kata Tri saat dihubungi, Selasa (20/1/2026).
Tri menjelaskan bahwa seluruh siswa korban pencabulan duduk dalam satu kelas yang sama, dan pelaku YP merupakan guru sekaligus wali kelas mereka. Ia juga menyebutkan bahwa ada korban yang mengalami gangguan psikis dan sedang menjalani visum di Rumah Sakit (RS) Pamulang.
Dugaan awal, pencabulan ini telah berlangsung sejak pertengahan tahun 2025. Namun, Tri tidak menutup kemungkinan bahwa praktik tersebut telah dilakukan lebih lama.
“Yang baru kita tahu sejak Juli 2025 sampai Januari 2026. Tapi bisa berkembang juga,” ungkapnya.






