— Mirae Asset Sekuritas menilai ketahanan sektor eksternal Indonesia akan menjadi penentu utama sentimen pasar pada semester II-2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, investor diperkirakan lebih selektif dan fokus pada emiten dengan fundamental kuat.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan kemampuan emiten menjaga kinerja di tengah dinamika ekonomi dan suku bunga yang masih tinggi akan menjadi salah satu pertimbangan utama investor.

“Kami melihat investor akan semakin memperhatikan kualitas fundamental perusahaan. Di tengah kondisi makro yang masih berkembang, emiten dengan likuiditas yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta kemampuan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan akan memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan emiten yang lebih sensitif terhadap perubahan kondisi pasar,” ujar Rully.

BBCA Jadi Rekomendasi Utama

Berdasarkan penilaian tersebut, Mirae Asset Sekuritas tetap menempatkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai rekomendasi utama di sektor perbankan. BBCA dinilai memiliki fundamental lebih kuat dibandingkan bank besar lain, antara lain potensi ekspansi net interest margin (NIM) dan likuiditas yang memadai.

Rully menyebutkan beberapa indikator pendukung seperti loan to deposit ratio (LDR) sebesar 74,1%, gross non-performing loan (NPL) sebesar 1,8%, serta cost of credit yang stabil pada level 6 basis poin.

“Dalam kondisi likuiditas perbankan yang masih relatif ketat, kami melihat BBCA berada pada posisi yang lebih baik dibandingkan bank-bank besar lainnya. Fundamental tersebut menjadi salah satu alasan kami tetap menempatkan BBCA sebagai top pick di sektor perbankan,” tambah Rully.

Perhatian Pasar Pada Ketahanan Eksternal

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Novani Karina Saputri, mengatakan perhatian pasar kini bergeser pada kemampuan Indonesia menjaga ketahanan sektor eksternal menyusul neraca perdagangan Mei 2026 yang mencatat defisit sebesar US$ 1,61 miliar. Angka itu mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut dan merupakan defisit bulanan terbesar sejak April 2019.

Novani menilai defisit neraca perdagangan Mei 2026 mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap sektor eksternal Indonesia di tengah perlambatan perdagangan global, normalisasi harga komoditas, dan tingginya impor migas. Kondisi ini berlangsung ketika transaksi berjalan masih mencatat defisit dan cadangan devisa terus menurun.

“Berakhirnya surplus perdagangan selama 72 bulan menunjukkan bantalan eksternal Indonesia mulai menyempit. Dampaknya, ketergantungan terhadap arus modal portofolio untuk menjaga stabilitas eksternal menjadi semakin besar,” kata Novani.

Dia menambahkan perhatian pasar ke depan tidak lagi hanya tertuju pada kembalinya surplus perdagangan, tetapi juga pada kondisi ketahanan sektor eksternal Indonesia secara agregat.

“Pemulihan permintaan global, pergerakan harga komoditas, tingginya kebutuhan impor energi, serta efektivitas implementasi kebijakan DHE akan menjadi faktor utama yang menentukan ketahanan sektor eksternal, stabilitas rupiah dan sentimen pasar,” ujar Novani.

Novani menegaskan, selama surplus perdagangan masih terbatas, transaksi berjalan tetap berada dalam kondisi defisit, dan tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan bauran kebijakan yang berorientasi pada stabilitas.