Berita7 — Harga minyak dunia ditutup melemah sekitar 2% pada perdagangan Kamis (9/7/2026), seiring kekhawatiran pasar tentang kenaikan inflasi dan melambatnya ekonomi global yang dapat menekan permintaan energi.
Meskipun risiko gangguan pasokan akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi ancaman, kekhawatiran terhadap permintaan menjadi faktor dominan yang menekan harga.
Harga minyak Brent untuk pengiriman terdekat turun US$ 1,72 atau 2,2% menjadi US$ 76,30 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 1,44 atau 2% ke level US$ 72,08 per barel.
Sebelumnya, Brent dan WTI sempat mencetak penutupan tertinggi masing-masing sejak 19 Juni dan 22 Juni, namun sentimen pasar berubah setelah data dan perkembangan geopolitik terbaru.
Ketegangan Geopolitik dan Pasokan
Militer Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di beberapa negara Teluk setelah serangan udara AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Aksi tersebut menekan upaya gencatan senjata yang baru berjalan sekitar tiga pekan.
Konflik juga menghambat pembukaan penuh Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Meski demikian, analis dari Macquarie Group, Vikas Dwivedi, memperkirakan ketegangan tidak akan berlangsung lama karena keterbatasan ekonomi dan politik kedua pihak.
Beberapa negara di kawasan, termasuk Qatar, menyerukan agar pihak terkait menempuh jalur diplomasi dan mengutuk serangan terhadap kapal-kapal komersial. Pernyataan serupa datang dari pejabat Turki dan Oman yang meminta agar tidak terjadi eskalasi militer lebih lanjut.
Menurut Bob Yawger, Director of Energy Futures Mizuho, Iran tampak mulai mencari jalan untuk meredakan konflik dan membuka peluang kembali ke meja perundingan setelah dua hari serangan.
Data dari Goldman Sachs menunjukkan aliran pengiriman minyak dari Teluk Persia sempat pulih ke lebih dari 80% dari kondisi normal dalam 10 hari pertama setelah pembukaan kembali Selat Hormuz, namun kembali turun ke kisaran 70% setelah serangan terbaru terhadap kapal tanker.
Tekanan Inflasi dan Permintaan
Di Amerika Serikat, klaim pengangguran mingguan turun, menandakan pasar tenaga kerja relatif solid meski perekrutan melambat. Risalah rapat The Fed pada Juni juga mencatat meningkatnya kekhawatiran pembuat kebijakan terhadap inflasi, meskipun mereka memperkirakan kondisi tenaga kerja tetap stabil dalam waktu dekat.
Presiden The Fed New York, John Williams, mengatakan ia tidak memperkirakan kenaikan harga energi akan berlangsung lama meskipun konflik di Timur Tengah berlanjut. Namun, kenaikan suku bunga yang dilakukan The Fed untuk menahan inflasi berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya menekan permintaan minyak.
Di China, inflasi harga produsen (PPI) pada Juni melonjak ke level tertinggi empat tahun, meningkatkan tekanan pada profitabilitas sektor manufaktur di tengah lemahnya permintaan domestik.
Perang Ukraina dan Dampaknya
Perkembangan perang Ukraina juga menjadi pemantauan pasar. Militer Ukraina mengklaim berhasil menyerang belasan kapal tanker Rusia di Laut Azov sebagai upaya mengganggu pasokan bahan bakar Rusia dan mengisolasi wilayah Krimea yang diduduki Moskow.
Pasar memerhatikan kemungkinan penyelesaian konflik yang dapat mendorong pencabutan sebagian sanksi terhadap Rusia, sehingga membuka peluang peningkatan ekspor minyak Moskow. Pada 2025, Rusia tercatat sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga setelah AS dan Arab Saudi.
Ikuti Berita7

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.