Berita

Mendes Yandri Susanto: Membangun Indonesia Dimulai dari Desa, Bukan dari Atas

Advertisement

Boyolali – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Yandri Susanto menegaskan bahwa pembangunan Indonesia harus dimulai dari desa. Penegasan ini disampaikan dalam peringatan Hari Desa Nasional 2026 yang digelar di Lapangan Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada Kamis (15/1/2026).

Fondasi Pembangunan Nasional

Dalam acara yang dihadiri puluhan ribu kepala desa se-Jawa Tengah dan perwakilan asosiasi desa se-Indonesia, Yandri menekankan pentingnya desa sebagai fondasi utama pembangunan nasional. Menurutnya, desa merupakan akar kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.

“Membangun desa sama artinya membangun Indonesia. Jika desa tertinggal, maka Indonesia juga akan tertinggal,” ujar Yandri dalam sambutannya.

Program Strategis Kementerian Desa

Yandri memaparkan sejumlah program strategis yang digagas Kementerian Desa, salah satunya adalah program Desa Ekspor. Program ini bertujuan membuka akses langsung bagi desa ke pasar global.

Ia memberikan contoh keberhasilan Desa Kertasana di Pandeglang yang berhasil mengekspor kopi dan ikan ke Prancis, Inggris, dan Kanada. Selain itu, Desa Ngoran di Blitar mampu mengekspor alat musik gendang djembe ke Tiongkok melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan pendapatan mencapai Rp18 miliar per tahun.

“Ini bukti bahwa desa mampu menjadi motor ekonomi nasional jika diberi ruang dan dukungan,” katanya.

Kolaborasi Lintas Sektor

Selain penguatan ekonomi, Yandri juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ketahanan sosial di desa. Kementerian Desa telah menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga:

  • Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk program Desa Bersinar guna pencegahan narkoba.
  • Kejaksaan Agung untuk program Jaksa Garda Desa melalui digitalisasi pelaporan dana desa secara real time.
  • Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk program Desa Siap Siaga yang memberdayakan masyarakat, termasuk mantan narapidana terorisme, melalui kegiatan ekonomi produktif.

Sinergi dengan Program Presiden

Momentum Hari Desa Nasional 2026 sejalan dengan program Astacita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin keenam yang menekankan pembangunan dari desa dan dari bawah untuk pertumbuhan dan pemerataan ekonomi serta pengentasan kemiskinan.

Advertisement

Yandri mengingatkan bahwa Indonesia saat ini memiliki 75.266 desa, yang tidak mungkin dibangun oleh satu lembaga saja. “Kita bukan superman, tapi super tim,” tegasnya.

12 Aksi Bangun Desa

Untuk itu, Kementerian Desa menggagas 12 Aksi Bangun Desa. Aksi ini mencakup berbagai inisiatif, antara lain:

  • Penguatan BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih.
  • Pengembangan desa tematik (Desa Lele, Desa Nila, Desa Melon, Desa Padi, Desa Jagung).
  • Pengembangan Desa Wisata dan Desa Ekspor.
  • Dukungan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berbagai inisiatif pendukung juga digelar, mulai dari Festival Bangun Desa, Liga Desa, hingga Festival Film Desa.

Deklarasi Boyolali dan Simbol Harapan

Puncak peringatan ditandai dengan pembacaan Deklarasi Boyolali oleh seluruh peserta. Deklarasi ini berisi tekad bersama untuk melaksanakan program prioritas Presiden, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan menempatkan masyarakat desa sebagai pelaku utama pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Acara ditutup dengan pelepasan burung merpati oleh Mendes PDTT Yandri Susanto bersama jajaran menteri, wakil menteri, dan para undangan. Pelepasan simbol harapan, persatuan, dan semangat baru membangun desa sebagai garda terdepan Indonesia.

Peringatan Hari Desa Nasional 2026 ini dipersembahkan oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia serta didukung oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, PT Pupuk Indonesia, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk.

Advertisement