Manchester United memilih untuk tidak terburu-buru mempermanenkan status Michael Carrick sebagai manajer tetap, meskipun timnya meraih tiga kemenangan beruntun dalam dua pekan terakhir. Keputusan ini diambil manajemen Setan Merah untuk menghindari kesalahan yang sama seperti saat mempermanenkan Ole Gunnar Solskjaer pada 2019.
Performa Apik Carrick Belum Cukup
Tiga kemenangan beruntun atas Manchester City, Arsenal, dan Fulham telah mengangkat performa Manchester United. Hasil positif ini membawa MU naik ke urutan keempat klasemen sementara Premier League dengan mengoleksi 41 poin. Padahal, sebelum periode ini, MU hanya mampu meraih tiga hasil imbang beruntun melawan Wolverhampton Wanderers, Leeds United, dan Burnley.
Meskipun sejumlah pihak mulai menyuarakan agar Carrick naik pangkat menjadi manajer tetap, manajemen MU dilaporkan tetap bersikap adem-ayem. Menurut laporan BBC, setelah memecat Ruben Amorim awal bulan lalu, MU ingin memaksimalkan waktu hingga musim panas mendatang untuk mempertimbangkan daftar kandidat manajer sambil terus memantau kinerja Carrick.
Belajar dari Kasus Ole Gunnar Solskjaer
Manajemen MU enggan mengulangi kesalahan yang terjadi pada 2019 ketika Ole Gunnar Solskjaer yang juga berstatus manajer interim kala itu, akhirnya dipermanenkan. Menggantikan Jose Mourinho, Solskjaer memulai tugasnya dengan gemilang, hanya sekali kalah dalam 17 laga pertamanya, termasuk delapan kemenangan beruntun. MU kemudian memberinya kontrak permanen selama tiga tahun.
Namun, performa tim menurun drastis setelahnya. MU hanya mampu meraih dua kemenangan dalam 12 laga terakhir musim tersebut, delapan di antaranya berakhir dengan kekalahan. Pengalaman pahit inilah yang membuat MU kini memilih untuk bersabar dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
Ketersediaan Pelatih Top di Musim Panas
Selain belajar dari masa lalu, keputusan menunda permanennya Carrick juga dipengaruhi oleh ketersediaan sejumlah pelatih potensial di pasar pada musim panas mendatang. Nama-nama seperti Oliver Glasner, Andoni Iraola, hingga Thomas Tuchel disebut-sebut menjadi incaran MU. Manajemen ingin memastikan mereka tidak kehilangan kesempatan untuk mendekati pelatih-pelatih top tersebut.
Pada akhirnya, nasib Michael Carrick di kursi manajer Manchester United akan sangat bergantung pada hasil yang ia raih hingga akhir musim. Keputusan akhir akan diambil berdasarkan apakah kinerjanya dianggap layak untuk dipertahankan atau justru manajemen merasa perlu merekrut manajer baru untuk musim depan.






