Berita7 — Jakarta – Insiden ledakan di Gudang Pusat Munisi (Gupusmu) II Pusat Peralatan Angkatan Darat (Puspalad) di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, telah memicu perhatian serius dari Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Buntut dari peristiwa yang merenggut nyawa satu prajurit TNI ini, DPR meminta agar investigasi dilakukan secara menyeluruh.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menekankan pentingnya tim investigasi yang dibentuk oleh TNI untuk bekerja secara profesional, objektif, dan transparan. Ia berharap hasil investigasi dapat menjadi dasar perbaikan konkret guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. “Proses tersebut perlu diberi ruang agar dapat bekerja secara objektif, profesional, dan transparan sehingga penyebab kejadian dapat diketahui secara pasti tanpa didahului spekulasi,” ujar Dave kepada wartawan, Sabtu (18/6/2026).
Dave juga meminta adanya evaluasi mendalam terhadap tata kelola penyimpanan amunisi di lingkungan TNI. Menurutnya, pemeriksaan, pemeliharaan, dan sistem pengamanan amunisi perlu dilakukan secara berkala sesuai standar keselamatan yang berlaku. “Oleh karena itu, evaluasi terhadap tata kelola penyimpanan, pemeriksaan, pemeliharaan, serta sistem pengamanan amunisi perlu terus dilakukan secara berkala dengan mengacu pada standar keselamatan yang berlaku,” jelasnya.
Senada dengan itu, anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, mendesak agar investigasi ledakan gudang amunisi di Madiun dilakukan secara komprehensif. Ia juga menyuarakan perlunya kajian ulang mengenai penempatan gudang penyimpanan amunisi agar lebih menjauhkan dari permukiman warga.
TB Hasanuddin menguraikan bahwa tim investigasi harus memeriksa secara detail apakah sistem penyimpanan amunisi sudah memenuhi seluruh persyaratan keamanan. Hal ini mencakup kondisi ruangan, pengaturan suhu, penataan amunisi, hingga kepatuhan terhadap prosedur pengamanan. Ia juga meminta TNI AD untuk memeriksa kondisi dan usia amunisi yang tersimpan, guna memastikan tidak ada amunisi yang kedaluwarsa, rusak, atau mengalami penurunan kualitas. “Seluruh faktor yang memungkinkan terjadinya ledakan harus ditelusuri secara menyeluruh, baik dari aspek teknis, kondisi fasilitas, kelalaian manusia, maupun kepatuhan terhadap prosedur operasional,” kata TB Hasanuddin.
Lebih lanjut, ia mendorong agar penempatan gudang amunisi yang terlalu dekat dengan permukiman warga dievaluasi. Jika standar jarak aman tidak lagi terpenuhi, gudang tersebut perlu dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. “Apabila tidak lagi memenuhi standar jarak aman, gudang tersebut perlu dipindahkan ke lokasi yang lebih aman dan jauh dari kawasan berpenduduk,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa hasil investigasi harus menjadi landasan untuk memperbaiki sistem penyimpanan, pengawasan, dan pengamanan amunisi. “Hasil investigasi harus menjadi dasar untuk memperbaiki sistem penyimpanan, pengawasan, dan pengamanan amunisi agar kejadian serupa tidak kembali terulang,” tambahnya.
Ledakan di Gudang Pusat Munisi (Gupusmu) II Puspalad, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, terjadi pada Kamis (16/7/2026). Peristiwa ini menyebabkan satu prajurit TNI gugur, empat orang mengalami luka berat, dan dua lainnya luka ringan. Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono, insiden tersebut terjadi saat personel sedang melaksanakan pemeriksaan dan perawatan materiil munisi di salah satu gudang penyimpanan. “TNI Angkatan Darat turut berduka cita yang mendalam atas insiden kecelakaan kerja yang terjadi di Gupusmu II Puspalad. Kami menyampaikan belasungkawa kepada keluarga prajurit yang gugur dalam tugas serta mendoakan seluruh korban yang saat ini masih menjalani perawatan agar segera diberikan kesembuhan dan dapat pulih kembali seperti sediakala,” ujar Donny dalam keterangan yang diterima, Kamis (16/7/2026).
Ikuti Berita7
