Berita7 — PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) telah menyelesaikan aksi korporasi yang meningkatkan kapasitas pendanaan perusahaan untuk ekspansi dan investasi. Perusahaan menutup private placement dan mendapat persetujuan pemegang saham untuk pelaksanaan rights issue yang memungkinkan penghimpunan dana besar.
Pada private placement, ENRG menerbitkan 218,3 juta saham baru pada harga Rp 1.550 per saham, sehingga menghimpun dana sekitar Rp 339 miliar. Dana itu akan dialokasikan sebagai modal kerja lewat penyertaan modal pada anak usaha.
Detail Rights Issue dan Peran Standby Buyer
Persetujuan rights issue menetapkan harga pelaksanaan Rp 310 per saham dengan rasio 2 saham lama berhak membeli 1 saham baru. Jika seluruh rights issue direalisasikan, ENRG berpotensi menerbitkan 13,3 miliar saham baru dan menghimpun dana hingga Rp 4,1 triliun.
PT Bakrie Kalila Investment ditetapkan sebagai standby buyer untuk maksimal 10,5 miliar saham HMETD. Kehadiran standby buyer ini dianggap memberi kepastian terhadap target penghimpunan dana, demikian dikemukakan analis senior Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas.
Adapun cum rights date ditetapkan pada 13 Agustus 2026.
Revisi Proyeksi Kinerja dan Target Harga
Kiwoom Sekuritas menyesuaikan proyeksi setelah memperhitungkan peningkatan jumlah saham beredar akibat private placement dan rights issue. Perusahaan memperkirakan earnings per share (EPS) ENRG turun 29% secara tahunan, berbalik dari proyeksi kenaikan 28% yoy sebelumnya.
Proyeksi pendapatan ENRG direvisi menjadi US$ 535 juta atau tumbuh 7% yoy, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan kenaikan 19% yoy. Penyesuaian ini disampaikan sejalan dengan asumsi harga minyak yang lebih rendah dan realisasi harga jual rata-rata yang lebih lemah.
Estimasi laba bersih pun diturunkan menjadi US$ 101 juta, yang mencerminkan potensi pertumbuhan 11% yoy dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 28% yoy.
Target Harga Baru dan Valuasi
Berdasarkan kombinasi metode valuasi net asset value (NAV) reserve dan discounted cash flow (DCF) serta revisi proyeksi laba, Kiwoom menurunkan target harga saham ENRG menjadi Rp 1.390 dari Rp 2.100. Rekomendasi yang disampaikan tetap buy.
Target terbaru mencerminkan asumsi harga minyak yang lebih rendah dan dilusi akibat peningkatan saham beredar. Target harga ini menempatkan proyeksi valuasi pada price to earnings ratio (P/E) sebesar 31 kali untuk 2026 dan 29 kali untuk 2027, serta price to book value (P/BV) diproyeksikan 2,7 kali pada 2026 dan 2,5 kali pada 2027.
Risiko terhadap Rekomendasi
- Percepatan transisi energi
- Ketidakpastian regulasi
- Volatilitas harga komoditas
- Meningkatnya persaingan industri
- Disrupsi teknologi
“Kehadiran standby buyer ini memberikan kepastian bahwa target penghimpunan dana dapat tercapai,” ujar Sukarno Alatas.
Ikuti Berita7

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.