— Harga minyak mentah dunia melanjutkan penurunan pada perdagangan Kamis, seiring pelaku pasar menilai ulang dampak serangan udara Amerika Serikat terhadap Iran dan potensi gangguan arus di Selat Hormuz.

Pada perdagangan pagi, kontrak berjangka Brent turun sekitar US$1,03 (1,32%) ke US$76,99 per barel, sementara WTI Amerika Serikat turun 88 sen (1,2%) ke US$72,64 per barel.

Respons Pasar Terhadap Eskalasi Militer

Lonjakan harga sempat terjadi setelah pasar menanggapi serangan militer AS ke Iran dan balasan yang diluncurkan Iran ke Kuwait dan Bahrain. Eskalasi ini dinilai mengancam kelanjutan upaya diplomatik yang tengah berjalan untuk mengakhiri konflik.

Serangan AS dikaitkan dengan insiden sabotase terhadap tiga kapal kargo di Selat Hormuz beberapa hari sebelumnya. Presiden AS menyatakan gencatan senjata sementara dengan Iran telah “berakhir”, menambah ketidakpastian di pasar.

“Para pelaku pasar kini sedang menilai kembali situasi di lapangan, terutama karena kepastian mengenai arus minyak yang melewati Selat Hormuz masih sangat mengambang,” kata Kepala Analis Pasar di KCM Trade Tim Waterer.

Waterer menambahkan bahwa kemungkinan deeskalasi menjadi faktor yang menahan harga agar tidak melonjak lebih tinggi. Di sisi lain, disebutkan bahwa Iran sempat menghubungi Presiden AS dan menyatakan keinginan membuat kesepakatan baru.

Asuransi dan Rute Pelayaran

Akibat meningkatnya risiko, beberapa perusahaan asuransi perang menyarankan agar perusahaan pelayaran menunda sementara rute melalui Selat Hormuz. Sejumlah penyedia asuransi lain mulai meninjau kembali klausul polis mereka untuk mengantisipasi potensi kembalinya konflik terbuka.

Prospek Pasokan Global

Sebelum ketegangan terbaru, harga minyak sedang dalam tren turun karena pasar menyerap pasokan yang dilepaskan dari Timur Tengah dan peningkatan stok cadangan global.

Goldman Sachs menilai arus pasokan dan pergerakan harga jangka pendek masih bergerak dua arah. Bank investasi itu menilai pasokan dapat kembali normal pada akhir Juli jika negosiasi berlanjut, pelonggaran sanksi terhadap minyak Iran dikembalikan, dan koridor pelayaran mendapatkan jaminan keamanan—dengan asumsi peningkatan arus logistik sebesar 6,6 juta barel per hari.

Namun, mereka memperingatkan jika negosiasi gagal, serangan terhadap kapal tanker meluas, atau AS melakukan blokade terhadap minyak Iran, gangguan pasokan yang lebih parah tidak dapat dihindari.

“Dalam skenario dasar, Brent kemungkinan besar akan diperdagangkan di kisaran US$75 hingga US$85 per barel selama bulan depan, dengan kecenderungan naik tipis,” ujar Aneeka Gupta, Direktur Riset Makroekonomi di WisdomTree.

Gupta menilai pemulihan pasokan mendasar sudah berjalan meski belum tuntas, sementara jalur diplomasi walau mandek belum benar-benar runtuh.

Tekanan Tambahan dari Kebijakan Rusia

Selain risiko di Teluk, pasokan global mendapat tekanan setelah Rusia memutuskan melarang ekspor bahan bakar diesel untuk mengamankan pasokan domestik pasca-serangan drone ke kilang yang memicu kelangkaan dan lonjakan harga di dalam negeri.

Selat Hormuz tetap menjadi jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Sebelum konflik, selebaran itu dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair global setiap hari, sehingga setiap gangguan dapat berdampak luas pada harga energi internasional.

Sempat ada gencatan senjata yang sempat membuka kembali aliran pasokan dari Timur Tengah, namun runtuhnya gencatan tersebut akibat aksi saling balas pada pertengahan tahun ini kembali menempatkan perdagangan energi dalam kondisi ketidakpastian tinggi.