Berita7 — Grup Djarum kembali mempertegas posisinya di pasar modal dengan mencatatkan saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) di Bursa Efek Indonesia. Langkah ini bukan hanya menambah jumlah emiten dalam kelompok usaha, tetapi juga bagian dari strategi memperkuat ekosistem bisnis infrastruktur digital yang terintegrasi.
Rencana itu melibatkan PT Global Telekomunikasi Prima (GTP), entitas Grup Djarum melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), yang akan menjadi pemegang saham pengendali BACH setelah proses penawaran umum perdana selesai.
GTP sebelumnya memegang 30% saham BACH dan akan menaikkan kepemilikannya menjadi 51% setelah IPO. Struktur kepemilikan baru ini diharapkan menggabungkan lini usaha telekomunikasi, pembangunan infrastruktur, dan solusi energi dalam satu ekosistem usaha.
Sinergi Antarlini Usaha
Kombinasi peran GTP di sektor telekomunikasi dengan kompetensi BACH dalam pembangunan serta pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi dan bisnis solusi kelistrikan dinilai membuka peluang perluasan usaha seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital.
“Dengan masuknya PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) sebagai pengendali, yang merupakan bagian dari salah satu Grup Djarum, sebenarnya ini memperkuat posisi fundamental perusahaan BACH,” ujar Komisaris Utama BACH Anita Anwar pada acara pencatatan saham perdana di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Anita mengatakan kesamaan ekosistem bisnis akan menciptakan kolaborasi yang memperluas peluang usaha dan menguatkan daya saing perseroan. “Pada dasarnya GTP adalah perusahaan telekomunikasi, sementara kekuatan BACH berada pada pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan maintenance. Dengan adanya GTP sebagai pengendali, sudah pasti akan tercipta sinergi dan kolaborasi,” tambahnya.
Detail Kepemilikan dan Transaksi
Mengacu pada prospektus, GTP saat ini menguasai 30% saham BACH. Berdasarkan Perjanjian Opsi tertanggal 7 Januari 2026 dengan PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI), GTP akan membeli 1.042.227.300 saham pada harga IPO Rp442 per saham untuk mencapai kepemilikan 51%.
Pembelian saham itu harus diselesaikan paling lambat lima hari kerja sejak pencatatan saham agar GTP resmi menjadi pemegang saham pengendali.
Daya Tarik Investor dan Hasil IPO
Minat investor terlihat pada hari pertama perdagangan BACH, ketika harga saham melonjak ke batas atas auto rejection (ARA) 24,43% ke level Rp550 dari harga penawaran Rp442, sementara IHSG justru terkoreksi 1,89%.
Pada penawaran umum, BACH melepas 615 juta saham baru atau 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh, menghimpun dana sebesar Rp307,5 miliar. Sekitar 70% dana akan dipakai sebagai modal kerja, terutama untuk pembelian genset, dan 30% sisanya untuk mengurangi pinjaman bank guna memperkuat struktur permodalan.
Proyeksi Keuangan dan Strategi Pertumbuhan
Direktur Utama BACH Budi Kurniawan menyatakan perseroan menargetkan pendapatan lebih dari Rp3 triliun pada 2030, atau tumbuh rata-rata sekitar 12% per tahun dari posisi Rp1,73 triliun pada 2025. Laba bersih diproyeksikan naik sekitar 158% menjadi Rp401 miliar.
“Kami sangat optimistis karena melihat prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, ditambah lini bisnis power system dan infrastruktur telekomunikasi yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat,” kata Budi.
Perseroan mendasarkan optimisme pada backlog proyek yang diperoleh sepanjang 2026. Strategi yang diungkap meliputi perluasan bisnis power solution, peningkatan proyek infrastruktur telekomunikasi, pengembangan energi baru, penguatan kontrak berbasis recurring revenue, serta peningkatan efisiensi operasional menggunakan dana IPO.
Direktur BACH Hasby Jap menilai target pertumbuhan sekitar 12% per tahun masih konservatif, mengingat rekam jejak pertumbuhan pendapatan perusahaan: naik sekitar 39% pada 2023-2024 dan sekitar 25% pada 2024-2025. “Target pertumbuhan itu sangat moderat. Kami cukup optimistis dapat mencapainya,” kata Hasby.
Fondasi Bisnis
Selama lebih dari dua dekade, BACH mengklaim telah mengelola lebih dari 40.000 site, mendistribusikan lebih dari 20.000 unit genset, serta melayani lebih dari 200 pelanggan korporasi, termasuk beberapa kelompok perusahaan besar dan operator telekomunikasi.
Pada 2025, pendapatan BACH meningkat hampir 40% menjadi Rp1,73 triliun, sementara laba bersih naik 97,5% menjadi Rp155 miliar. Dengan dukungan ekosistem Grup Djarum, perusahaan menempatkan diri sebagai bagian penting dalam pengembangan industri infrastruktur digital nasional.
Ikuti Berita7
