— Harga Bitcoin kembali turun pada perdagangan Kamis, 9 Juli 2026, setelah pasar merespons meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran atas aksi jual oleh perusahaan pemegang aset kripto. Pada pukul 07.35 WIB, harga Bitcoin tercatat anjlok 2,32% ke US$62.082,74 per koin atau sekitar Rp1,12 miliar dengan kurs Rp18.075 per dolar AS.

Tekanan di pasar kripto tercermin pada penurunan kapitalisasi pasar global dan indeks aset kripto utama dalam 24 jam terakhir. Kapitalisasi pasar kripto turun 1,71% menjadi US$2,15 triliun, sementara indeks yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar menyusut 2,2%.

Tekanan Geopolitik Dan Energi

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait berakhirnya kesepakatan sementara dengan Teheran disebut turut memicu penguatan harga minyak mentah Brent. Harga Brent naik ke sekitar US$74 per barel dari sekitar US$68 pekan sebelumnya.

Kenaikan harga energi tersebut diikuti oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga AS. Pelaku pasar menaikkan peluang kenaikan suku bunga pada September menjadi 69%, naik dari 42% sebulan sebelumnya. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi disebut sebagai sentimen negatif bagi aset berisiko termasuk Bitcoin.

Ancaman Penjualan Strategis

Kekhawatiran lain yang menekan Bitcoin berasal dari pengumuman sebuah perusahaan investasi yang menjual Bitcoin senilai US$216 juta di luar program monetisasi senilai US$1,25 miliar. Langkah ini memicu kekhawatiran pasar bahwa perusahaan tersebut dapat melanjutkan penjualan untuk mengelola struktur permodalan dan kewajiban utangnya.

Perusahaan bersangkutan memiliki kewajiban dividen tahunan sebesar US$1,76 miliar dan utang konversi lebih dari US$3,8 miliar dengan jatuh tempo pertama sebelum April 2027.

Sentimen Ekonomi Global

Selain faktor geopolitik dan aksi perusahaan, ketidakpastian ekonomi global turut memperberat sentimen pasar. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor panjang di beberapa negara meningkat, dan ada laporan mengenai kebijakan regulasi yang lebih ketat terhadap eksposur perbankan pada aset kripto di beberapa yurisdiksi.

Serangkaian sentimen negatif tersebut membuat pelaku pasar berhati-hati dan meningkatkan risiko bahwa Bitcoin bisa kembali menguji level support di US$60.000 dalam waktu dekat.