Bogor – Kepergian Ferry Irawan, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menjadi salah satu penumpang pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Pangkep, Sulawesi Selatan, menyisakan duka bagi kerabat dan tetangganya di Bogor. Ferry dikenal sebagai sosok yang baik dan aktif dalam kegiatan masyarakat di Perumahan Mina Bhakti, Kelurahan Cikaret, Bogor Selatan.
Ketua RT setempat, Ari Fakhrizal, menceritakan komunikasi terakhirnya dengan Ferry. “Paling kemarin-kemarin (beberapa hari lalu) itu ada komunikasi terkait dengan putranya kan kadang sering main (keluar rumah) gitu. Ya seperti nitip gitu karena kan ketemu ngga intens ya, jadi kadang nitip ke kami untuk jaga-jaga anaknya kalau sedang main di luar rumah, karena kan khawatir juga bergaul sama anak-anak yang kurang baik lah gitu,” ujar Ari, Minggu (18/1/2026).
Ari menambahkan, Ferry merupakan warga yang aktif dalam kegiatan masyarakat. Namun, kesibukannya sebagai pengawas yang sering keluar daerah membuatnya jarang bertemu dengan tetangga. “Pak Ferry adalah orang yang baik selama bergaul di wilayah kami, aktif bermasyarakat, tapi setelah makin banyak kesibukan mungkin jadi agak berkurang ya, karena beliau sebagai pengawas sekarang, hampir setiap minggu mungkin keluar daerah terus. Jadi untuk pertemuan jadi agak jarang dengan kami,” jelas Ari.
Ari dan warga lainnya berharap segera ada titik terang mengenai keberadaan Ferry. “Kami sangat berharap mudah-mudahan beliau dapat segera ditemukan dalam kondisi apapun. Kami berharap, karena kami sebagai tetangga dekat, sangat berharap keberadaan beliau dapat segera ditemukan dan juga terus berdoa semoga keluarga diberikan ketabahan dan kesabaran,” imbuhnya.
Feri, warga lain yang juga mengenal Ferry Irawan, mengaku sering bekerja sama dalam mengurus hewan kurban. Ia menggambarkan Ferry sebagai pribadi yang lugas dan bertanggung jawab. “Kalau menurut saya pribadi, karena sering satu tim ya dengan beliau dalam Kegiatan kurban, dia itu orangnya lugas ya, terus nggak mau ada kesalahan orangnya, jadi memang tanggungjawabnya itu diemban benar-benar. Dia itu memang lebih memahami soal kurban gitu dibanding saya,” kata Feri kepada wartawan.
Feri mengetahui informasi musibah tersebut melalui grup WhatsApp dan masih memantau perkembangannya. “Kalau saya pribadi tahu informasinya dari WA grup soal musibah ini. Untuk kepastiannya kita juga masih mantau ya, mudah-mudahan segera diketahui kejelasannya,” tuturnya.
Sebelumnya, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan duka cita atas dugaan jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Maros, Sulawesi Selatan. Ia mengkonfirmasi ada tiga pegawai KKP yang berada di pesawat tersebut, termasuk Ferry Irawan. Ketiga pegawai tersebut sedang melaksanakan tugas pengawasan sumber daya KKP melalui udara atau air surveillance di wilayah pengelolaan perikanan udara RI.
“Mereka melakukan misi pengawasan sumber daya KKP melalui udara atau air surveilance di wilayah pengelolaan perikanan udara RI,” ucap Trenggono dalam konferensi pers, Sabtu (17/1/2026). Ia merinci ketiga pegawai tersebut adalah Ferry Irawan (analis kapal pengawas), Deden Mulyana (pengelola barang milik negara), dan Yoga Naufal (operator foto udara).
“Terkait informasi insiden yang dialami oleh pesawat dengan register PK-THT yang dioperasikan oleh PT IAT dengan ini kami nyatakan prihatin, kami terus terang sedih dan prihatin dan berdoa yang terbaik untuk para penumpang dan kru pesawat tersebut,” ujar Trenggono.






