— JAKARTA – Staf Sumber Daya Manusia (SSDM) Polri, sebagai panitia pusat seleksi calon taruna (catar) Akademi Kepolisian (Akpol) 2026, menggelar pemeriksaan penampilan (rikpil) sebagai tahap akhir rekrutmen. Tahap ini berbeda dengan pemeriksaan administrasi, kesehatan, psikologi, ujian akademik, tes jasmani (kesamaptaan), hingga pendalaman mental dan kepribadian (PMK) yang telah dilaksanakan di tingkat panitia daerah (polda) dan pusat (Mabes Polri). Rikpil khusus hanya diadakan di tingkat pusat.

Asisten Kapolri bidang Sumber Daya Manusia (As SDM Polri), Irjen Anwar, menjelaskan bahwa rikpil di tingkat pusat bertujuan untuk memastikan proses seleksi berjalan bersih, transparan, dan akuntabel. Hal ini merupakan sarana kontrol pimpinan Polri untuk mencegah peserta yang tidak lulus di tingkat daerah justru muncul di tingkat pusat.

“Ini untuk memastikan bahwa proses seleksi itu benar. Jadi sarana kontrol pimpinan-pimpinan Polri untuk memastikan seleksi betul-betul bersih, transparan dan akuntabel. Jangan sampai peserta di sana (tingkat daerah) tesnya nggak lulus, di sini (tingkat pusat) muncul pesertanya,” jelas Irjen Anwar kepada detikcom di Akpol, Semarang, Jawa Tengah pada Sabtu (25/7/2026).

Irjen Anwar menambahkan, rikpil merupakan pelengkap dari rangkaian panjang seleksi taruna Akpol. Selain mengecek kesesuaian kualitas calon taruna yang tertera di data dengan yang ditemui secara tatap muka, rikpil menjadi momen bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan dan bakat yang mungkin belum terakomodir di tes-tes sebelumnya.

“Rikpil ini adalah kegiatan untuk melengkapi rangkaian tes. Menggali kemampuan-kemampuan, prestasi calon taruna dan taruni yang belum tergali di tes-tes sebelumnya,” ujar Irjen Anwar.

Ia melanjutkan, tes akademik, psikologi, penelusuran minat, bakat, dan kemampuan, serta kesamaptaan sudah dilalui. Namun, prestasi dan bakat spesifik para calon taruna belum sepenuhnya tergali.

Menurut Irjen Anwar, hasil rikpil dapat membantu nilai calon taruna, namun juga bisa menjadi penghalang kelulusan.

“Kalau ketika di sini, kita menemukan hal yang tidak sesuai dengan data hasil seleksi, bisa menjadi penghalang (catar untuk lulus). Kalau (kualitas peserta) bagus, dia memenuhi syarat untuk menjadi anggota Polri, ada potensi-potensi lain yang bisa kita gali,” ungkapnya.

Bobot Tiga Aspek Penilaian

Irjen Anwar memaparkan bahwa rekrutmen taruna Akpol memiliki tiga aspek penilaian utama. Pertama adalah tes pendalaman akademik dan kemampuan Bahasa Inggris. Kedua adalah tes kesamaptaan jasmani. Ketiga adalah rikpil.

“Di tes tingkat pusat ada tiga aspek yaitu akademik ada TPA dan Bahasa Inggris, kemudian adalah kesamaptaan jasmani, lalu rikpil ini,” tutur mantan Kepala Biro Perawatan Personel SSDM Polri ini.

Dalam bobot nilai keseluruhan 100 persen, aspek akademik dan kemampuan Bahasa Inggris memiliki bobot tertinggi. Aspek kesamaptaan menempati urutan kedua dengan bobot setengah dari aspek akademik dan Bahasa Inggris.

Terakhir, rikpil memiliki bobot terkecil karena mengandung unsur penilaian subjektif. Irjen Anwar mengistilahkan aspek rikpil sebagai nilai tambahan.

“Idealnya bobot akademik tertinggi dari 100 persen, karena para peserta calon pimpinan Polri. Yang bobotnya sedang adalah samapta karena fisiknya harus kuat, jangan terus nanti letoi. Rikpil ini karena masih ada penilaian subjektivitas makanya kita kasih bobotnya yang di bawah, nilai tambahan,” pungkasnya.

Hingga tahap akhir seleksi panitia pusat Akpol, tercatat sebanyak 404 calon taruna dan taruni yang tersisa. Angka ini terdiri dari 365 calon taruna pria dan 35 calon taruni wanita.

Enam penilai rikpil tahun ini adalah Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo, Kalemdiklat Polri Komjen R.Z. Panca Putra, Asisten SDM Kapolri Irjen Anwar, Kadiv Propam Polri Irjen Abdul Karim, Wairwasum Polri Irjen Tomex Korniawan, dan Gubernur Akpol Irjen Daniel Tahi Monang Silitonga.