Jakarta – Memoar Aurelie Moeremans, Broken Strings, telah memicu perhatian luas tidak hanya di media sosial dengan lebih dari 23 juta klik, tetapi juga merambah hingga ke ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Kisah pilu sang aktris sebagai penyintas child grooming mendapat apresiasi sekaligus sorotan tajam dari parlemen.
Isu Dibawa ke Rapat Kerja DPR
Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, menjadi sosok vokal yang mengangkat isu ini dalam rapat kerja bersama Komnas HAM dan Komnas Perempuan baru-baru ini. Keberanian Aurelie dalam mengungkap trauma masa lalunya diapresiasi.
“Yang paling aku kaget, buku aku sampai dibahas di DPR. Hal ini, supaya kasus-kasus kayak aku tuh gak diabaikan lagi seperti kasus aku, supaya perlindungan terhadap anak dan perempuan itu bisa ditangani dengan lebih serius,” ujar Aurelie Moeremans, dikutip dari kanal YouTube AurĂ©lie Moeremans, Minggu (25/1/2026).
Harapan untuk Perubahan Sistem Hukum
Bintang film Story of Kale ini menaruh harapan besar agar viralnya buku tersebut tidak hanya menjadi perbincangan sesaat, melainkan menjadi pemicu perubahan pada sistem hukum di Indonesia. Ia berharap tidak ada lagi korban yang merasa takut mencari keadilan karena ancaman hukum balik atau kriminalisasi.
“Aku sih berharap dengan viralnya buku ini ada regulasi yang lebih melindungi korban. Jangan kayak aku dulu mau cari perlindungan malah ditakutin dengan konsekuensi dihukum balik gitu,” harapnya.
Sorotan Terhadap Pelaku dan Normalisasi
Selain regulasi, ranah politik juga menyoroti bagaimana pihak yang terindikasi sebagai pelaku terkadang masih mendapatkan ruang di publik. Hal ini sejalan dengan kegelisahan Aurelie Moeremans yang merasa tokoh dalam bukunya seolah masih memantaunya.
“Beliau (Rieke) ngerasa bahwa pihak yang merasa terkait dengan buku aku sedang melakukan apa ya… endorsement atau menormalisasikan child grooming di media dan beliau tuh sangat tidak terima,” terang Aurelie.
Validasi Pesan dan Pengalaman Masa Lalu
Bagi Aurelie Moeremans, perhatian dari negara menjadi validasi bahwa pesan yang dituliskan dalam bukunya telah sampai ke pihak yang tepat. Ia berharap pengalamannya dapat membantu orang lain.
“Kalau misalnya buku aku bisa bikin orang lebih paham tentang child grooming, orang tua bisa lebih waspada, ya berarti pesan aku nyampe dan aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan dan masa lalu aku gak sia-sia,” pungkasnya.






