Berita7 — BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan buy untuk tujuh saham sektor pertambangan logam meski momentum laba diperkirakan selektif pada kuartal II-2026. Rekomendasi itu mencakup AMMN, ANTM, BRMS, INCO, MBMA, NCKL, dan TINS.
Perusahaan sekuritas tersebut memperkirakan pendapatan sektor pertambangan logam pada kuartal II-2026 mencapai US$4,5 miliar, atau naik 12% secara kuartalan (qoq) dan 38% secara tahunan (yoy).
Proyeksi Margin Dan Faktor Penggerak
BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan margin laba kotor sektor pertambangan logam sebesar 26%, margin laba usaha 21,7%, dan margin laba bersih 16% untuk kuartal II-2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan kuartal I-2026 yang masing-masing tercatat 27,3%, 23,6%, dan 17,4%.
Penurunan margin sekitar 130–190 basis poin secara kuartalan dijelaskan oleh analisis BRI Danareksa sebagai akibat melemahnya penyerapan biaya tetap dan masih tingginya biaya bahan baku. Selain itu, kenaikan harga jual dan perubahan bauran produk diperkirakan lebih berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan dibanding pemulihan volume produksi atau penjualan.
Risiko Biaya dan Perkiraan Pemulihan
Analis BRI Danareksa, Andhika Audrey, menyatakan lonjakan biaya pada kuartal II-2026 terjadi pada berbagai komponen, namun intensitasnya mulai berbeda menjelang akhir kuartal. Tekanan biaya bahan bakar diprediksi berangsur mereda pada paruh kedua 2026 seiring pemulihan arus pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz dan meningkatnya kuota produksi OPEC+.
Sementara itu, tekanan biaya sulfur diperkirakan bertahan lebih lama karena peran Selat Hormuz dalam perdagangan sulfur dunia dan pembatasan ekspor asam sulfat dari China sejak Mei. Tekanan biaya sulfur diperkirakan tetap tinggi hingga kuartal III-2026 sebelum mereda.
Rekomendasi Saham dan Target Harga
Dalam cakupan kuartal II-2026, BRI Danareksa melihat pertumbuhan laba terfokus pada beberapa emiten. AMMN diperkirakan mencatat pertumbuhan laba bersih 63% qoq, sedangkan INCO diproyeksikan tumbuh 44% qoq.
Berdasarkan prospek laba kuartal II-2026, urutan emiten pilihan adalah Amman Mineral Internasional (AMMN) > Vale Indonesia (INCO) > Bumi Resources Minerals (BRMS) > Merdeka Battery Materials (MBMA) > Trimegah Bangun Persada (NCKL) > Antam (ANTM) > Timah (TINS).
Namun, ketika horizon dianalisis hingga paruh kedua 2026, preferensi berubah menjadi ANTM > TINS > AMMN > INCO > NCKL > MBMA > BRMS. Perubahan ini didasari tingkat keyakinan terhadap pencapaian target laba, ketahanan terhadap risiko kebijakan, dan visibilitas eksekusi operasional.
- AMMN – target harga Rp 6.000
- ANTM – target harga Rp 4.800
- BRMS – target harga Rp 1.100
- INCO – target harga Rp 8.000
- MBMA – target harga Rp 880
- NCKL – target harga Rp 1.300
- TINS – target harga Rp 4.500
BRI Danareksa menegaskan perbedaan antara momentum pertumbuhan laba jangka pendek dan tingkat kepastian pencapaian target laba jangka menengah. Mereka menyarankan pendekatan investasi selektif pada saham tertentu dan mempertahankan rekomendasi overweight untuk taktis tiga bulan ke depan.
Ikuti Berita7

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.