— Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) mengusulkan kenaikan tarif Transjakarta menjadi Rp 5.000 dan tarif Transjabodetabek menjadi Rp 10.000. Beberapa penumpang menilai angka tersebut masih wajar, asalkan ada perbaikan fasilitas dan frekuensi angkutan.

Warga berharap peningkatan layanan menjadi syarat sebelum tarif baru diberlakukan, terutama penambahan armada dan perbaikan fasilitas halte di titik-titik padat penumpang.

Yona, warga Depok yang sehari-hari bekerja di Jakarta Barat, menyatakan tidak keberatan dengan usulan kenaikan tarif. Ia menggunakan layanan Transjabodetabek rute D41 Sawangan–Lebak Bulus dan mengeluhkan sejumlah kelemahan layanan pada rute tersebut.

“Menurut saya, kalau naik jadi Rp 5.000 untuk Transjakarta oke-lah ya, tidak terlalu memberatkan. Kalau Transjabodetabek naik jadi Rp 10.000 juga sudah oke. Karena jaraknya yang jauh-jauh, cuma bayar Rp 10.000 kan enak lah ya,” kata Yona.

Yona menambahkan permintaan agar kenaikan tarif diimbangi penambahan armada. Ia menyampaikan bahwa pada jam-jam tertentu bus tidak selalu sampai ke pemberhentian akhir.

“Kalau jam 6 sore itu, dari Lebak Bulus ke Sawangan tidak sampai terminal atau pemberhentian terakhir, hanya sampai pintu Tol Sawangan. Bus balik lagi ke Lebak Bulus. Karena kalau sampai ke terminal, Jalan Sawangan yang macet parah bikin bus lama sampai ke Lebak Bulus lagi,” ujarnya.

Selain masalah trayek, Yona menyoroti fasilitas halte yang dinilai kurang memadai, mulai dari jumlah tempat duduk hingga ketersediaan tempat sampah.

“Yang kedua, di setiap halte tempat duduk masih kurang banyak. Tempat duduk bagi prioritas saja tidak cukup, apalagi penumpang umum. Tong sampah di Halte Lebak Bulus juga cuma satu. Semoga ditambah lagi biar kalau buang sampah itu nggak sembarangan,” ucapnya.

Ia berharap keberadaan halte di Terminal Sawangan dapat segera dibangun untuk meningkatkan kenyamanan penumpang saat menunggu.

Riris, warga Jakarta yang juga rutin menggunakan Transjakarta, menilai kenaikan tarif masih lebih murah dibandingkan transportasi daring, sehingga relatif ideal. Meski demikian, ia menekankan perlunya perbaikan fasilitas dan pengaturan selama jam sibuk.

“Sebenarnya masih sangat ideal, apalagi di Jakarta. Jatuhnya itu masih jadi transportasi umum yang paling murah dibandingkan ojol atau taksi,” kata Riris.

Riris menilai cakupan Transjakarta lebih luas dibandingkan KRL, sehingga meski tarif sedikit meningkat, pengguna tetap mendapat pilihan tujuan lebih banyak. Namun ia meminta penambahan armada dan perluasan area halte di titik berpenumpang tinggi.

“Masih sangat bisa dipahami, dengan harapan fasilitas juga harus lebih ditingkatkan. Mungkin dengan penambahan armada atau fasilitas lain di halte atau di tempat menunggu. Kalau dilihat di halte TJ non-BRT itu, saat rush hour pasti antrinya panjang banget,” ujarnya.

Usulan DTKJ

Ketua DTKJ Sugihardjo mengusulkan agar tarif integrasi Transjakarta dan Transjabodetabek disesuaikan, dengan angka Rp 5.000 untuk Transjakarta dan Rp 10.000 untuk Transjabodetabek.

Menurut Sugihardjo, kenaikan tersebut juga menyasar integrasi antar moda transportasi, termasuk kemungkinan penggabungan layanan jalan dengan LRT dan MRT sehingga sistem tarif menjadi satu kali bayar.

“Yang luar kota (Transjabodetabek) itu jadinya Rp 10 ribu. Apalagi nanti kalau misalnya kita mendorong sebetulnya integrasinya bukan sesama moda transportasi jalan, tapi dengan LRT dan MRT. Kalau Transjabodetabeknya digabungkan lagi ke situ, berarti kan sudah integrasi semua moda,” ujar Sugihardjo.

Dia menuturkan bahwa meski tarif diusulkan naik, integrasi antarmoda tetap memungkinkan pengguna membayar sekali untuk layanan yang terhubung.