— PT Bach Multi Global Tbk (BACH) menargetkan pendapatan lebih dari Rp 3 triliun pada 2030 setelah menyelesaikan penawaran umum perdana saham di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan menyatakan ekspansi pada lini solusi energi dan infrastruktur telekomunikasi menjadi motor utama pencapaian target tersebut.

Manajemen menyebut proyeksi itu merepresentasikan pertumbuhan pendapatan rata-rata sekitar 12% per tahun dari posisi sekitar Rp 1,73 triliun pada 2025. Untuk periode yang sama, laba bersih diproyeksikan meningkat menjadi sekitar Rp 401 miliar, atau naik sekitar 158%.

Optimisme Manajemen

Direktur Utama BACH, Budi Kurniawan, mengatakan prospek pertumbuhan ekonomi domestik dan kebutuhan dasar akan power system serta infrastruktur telekomunikasi menjadi dasar keyakinan perusahaan. “Kami sangat optimistis karena melihat prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, ditambah lini bisnis power system dan infrastruktur telekomunikasi yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya.

Selain faktor pasar, Budi menyebutkan perusahaan sudah memiliki backlog proyek dan pesanan sepanjang 2026 yang mendukung realisasi target pertumbuhan tahun ini.

Proyeksi dan Riwayat Pertumbuhan

Direktur BACH Hasby Jap mengatakan target pertumbuhan rata-rata 12% per tahun tergolong konservatif bila dibandingkan kinerja historis. Menurutnya, pendapatan tumbuh sekitar 39% pada 2023-2024, lalu meningkat sekitar 25% pada 2024-2025.

“Target pertumbuhan sekitar 12% per tahun itu sangat moderat. Kami cukup optimistis dapat mencapainya,” kata Hasby.

Strategi Ekspansi

Untuk mencapai target, perseroan berencana memperluas bisnis power solution, meningkatkan proyek pembangunan infrastruktur telekomunikasi, melakukan efisiensi operasional, serta menurunkan beban keuangan setelah perolehan dana IPO.

  • Penambahan kapasitas penyewaan pembangkit listrik hingga 50 megawatt (MW) per tahun.
  • Pengembangan bisnis energi baru.
  • Peningkatan proyek jaringan telekomunikasi dan penguatan kontrak jangka panjang berbasis recurring revenue.
  • Transformasi operasional melalui digitalisasi dan peningkatan kualitas layanan.

Penggunaan Dana IPO

BACH menawarkan 615 juta saham baru atau setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan harga penawaran Rp 500 per saham, sehingga menghimpun dana sekitar Rp 307,5 miliar.

Perusahaan menyatakan sekitar 70% dana IPO akan digunakan sebagai modal kerja, terutama untuk pembelian genset guna memenuhi kebutuhan penjualan dan penyewaan. Sisanya 30% akan dialokasikan untuk pelunasan sebagian pinjaman bank guna memperkuat struktur permodalan dan menurunkan leverage.

Posisi Operasi dan Mitra

Sejak lebih dari dua dekade beroperasi, BACH mengelola lebih dari 40.000 site dan mendistribusikan lebih dari 20.000 unit genset. Perusahaan melayani lebih dari 200 pelanggan korporasi di sektor telekomunikasi, perbankan, energi, dan pemerintahan.

Perseroan juga mencatat kemitraan dengan beberapa perusahaan besar di industri telekomunikasi dan perbankan sebagai bagian dari portofolio kliennya.

Kinerja 2025

Sepanjang 2025, BACH mencatat pertumbuhan pendapatan hampir 40% menjadi sekitar Rp 1,73 triliun. Laba bersih melonjak 97,5% menjadi sekitar Rp 155 miliar, mendorong margin laba bersih naik menjadi 9% dari 6,3% pada tahun sebelumnya.

Kenaikan kinerja didorong oleh lonjakan penjualan genset yang meningkat lebih dari 93% secara tahunan dan bisnis penyewaan genset yang tumbuh lebih dari 1.200%. Sementara itu, segmen jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi tetap menjadi kontributor utama melalui kontrak jangka panjang yang menghasilkan pendapatan berulang.