Berita7 — Indeks-indeks saham di Wall Street mayoritas ditutup melemah pada perdagangan Rabu (8/7/2026) setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan mengancam serangan baru ke Teheran. Pernyataan itu mendorong lonjakan harga minyak dan mengganggu sentimen pasar global.
Dow Jones Industrial Average anjlok 576,76 poin atau 1,09% ke 52.348,39, sementara S&P 500 turun 0,28% menjadi 7.482,71. Berbeda, Nasdaq Composite justru menguat 0,2% dan ditutup di 25.870,65.
Harga Minyak Melonjak
Di pasar energi, harga minyak melonjak tajam pada sesi yang sama. Minyak mentah Brent ditutup naik 5,43% ke US$78,19 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,37% menjadi US$73,52 per barel.
“Saya pikir semuanya sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi,” ucap Trump saat menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki. Presiden AS kemudian menegaskan ancamannya: “Kami akan menghantam mereka dengan keras malam ini.”
Respons Militer dan Pernyataan Sekutu
Pernyataan Trump muncul setelah AS pada Selasa melakukan serangkaian serangan terhadap Iran sebagai balasan atas serangan terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyebut serangan AS terhadap Iran sebagai langkah yang “sangat diperlukan.”
“Ketika ada gencatan senjata dan Iran pada dasarnya melanggarnya, seperti yang terlihat dari serangan terhadap kapal-kapal kemarin, maka sangat penting bagi AS untuk bereaksi secara tegas,” ujar Rutte.
Pergerakan Saham Sektor
Saham-saham energi menjadi pemenang utama di tengah lonjakan harga minyak. ConocoPhillips naik sekitar 2%, Chevron menguat 1%, dan Marathon Petroleum melesat 5%.
Sementara itu, saham-saham konsumen yang rentan terhadap kenaikan biaya energi bergerak melemah. The Home Depot turun 2%, McDonald’s merosot lebih dari 1%, dan Booking Holdings terkoreksi sekitar 4%.
Di sektor teknologi, saham semikonduktor memperlihatkan tanda-tanda pemulihan setelah penurunan sehari sebelumnya; dana indeks VanEck Semiconductor ETF naik sekitar 2%, meski masih hampir 12% di bawah puncak terbarunya.
Sentimen Investor dan Risalah The Fed
Analis senior Daniela Hathorn dari Capital.com mengatakan ketegangan baru di Timur Tengah memaksa investor meninjau kembali risiko geopolitik yang sempat dianggap mereda. “Pasar sudah cukup nyaman dengan asumsi bahwa konflik akan memudar secara bertahap. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan asumsi tersebut mungkin terlalu dini,” ujarnya.
Sementara itu, risalah The Fed bulan Juni menunjukkan para pejabat bank sentral masih beragam pandangan mengenai arah suku bunga. Beberapa memperkirakan suku bunga acuan akan bertahan pada atau sedikit di bawah level saat ini pada akhir tahun, sedangkan lainnya menilai suku bunga masih perlu dinaikkan. Publikasi risalah tersebut memberikan dampak terbatas terhadap pergerakan pasar saham AS.
Ikuti Berita7
