— Percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) menggeser fokus transformasi digital dari sekadar teknologi ke kesiapan talenta. Meskipun penggunaan generative AI sudah meluas di kalangan pekerja berbasis pengetahuan, kesiapan organisasi untuk memanfaatkan potensi penuh AI masih jauh tertinggal.

Data menunjukkan jurang antara penggunaan AI oleh individu dan kemampuan organisasi untuk mengoptimalkannya. Kondisi ini menegaskan bahwa sukses transformasi tidak hanya soal memasang teknologi, melainkan juga soal membekali karyawan dengan keterampilan yang relevan.

Kesenjangan Penggunaan AI dan Kesiapan Organisasi

Sebuah survei menyebut 92 persen pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia telah menggunakan generative AI dalam aktivitas kerja sehari-hari. Namun indikasi kesiapan organisasi berbeda: hanya 23 persen organisasi digolongkan sebagai “Pacesetters” yang siap memanfaatkan potensi AI secara maksimal.

Perbedaan ini memunculkan tantangan tersendiri bagi perusahaan yang ingin mengubah adopsi teknologi menjadi nilai bisnis nyata melalui SDM yang kompeten dan percaya diri.

Peran Keterampilan Nonteknis dan Bahasa

Seiring meningkatnya adopsi AI, kebutuhan keterampilan manusia juga berubah. Kompetensi seperti analytical thinking, resilience, creative thinking, technology literacy, serta penguasaan AI dan big data diproyeksikan krusial hingga 2030.

Dalam konteks globalisasi pekerjaan, kemampuan komunikasi—termasuk bahasa Inggris—semakin penting. Namun indeks kemampuan bahasa menunjukkan masih banyak pekerja Indonesia berada pada kategori low proficiency, sehingga hal itu menjadi hambatan bagi interaksi lintas mitra dan pasar internasional.

Dampak Hambatan Bahasa pada Organisasi

Studi global menunjukkan perusahaan merasakan dampak hambatan bahasa dalam berbagai aspek: interaksi dengan klien dan mitra, ekspansi pasar, kolaborasi internal, serta pengambilan keputusan. Selain keterbatasan teknis, masalah seringkali muncul dari kurangnya kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Inggris pada situasi kerja nyata.

Perbedaan antara memahami bahasa dan mampu berkomunikasi efektif dapat membatasi produktivitas, kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi secara optimal.

Solusi: Integrasikan Pengembangan Komunikasi dalam Strategi Talenta

Penting bagi perusahaan memasukkan pengembangan kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris sebagai bagian dari strategi pengembangan talenta. Tujuannya adalah meningkatkan Global Workforce Readiness—agar karyawan tidak hanya kompeten teknis tetapi juga mampu memimpin dan beradaptasi pada dinamika bisnis internasional.

Yasser Muhammad Syaiful, Country Director ELSA Business Indonesia, menyatakan kesiapan organisasi di era AI bergantung pada kemampuan talenta untuk beradaptasi, berkomunikasi, dan memanfaatkan teknologi secara efektif.

“Karena itu, investasi pada pengembangan keterampilan menjadi kunci untuk membangun organisasi yang lebih siap menghadapi perubahan serta meningkatkan Global Workforce Readiness,” ujar Yasser.

ELSA Business menawarkan platform pembelajaran bahasa Inggris yang dipersonalisasi menurut peran dan konteks pekerjaan. Fitur seperti AI coach, simulasi berdasarkan skenario bisnis nyata, dan dashboard analitik memungkinkan latihan komunikasi profesional yang relevan serta pemantauan perkembangan karyawan secara real-time.

Secara global, ELSA Business telah bekerja sama dengan lebih dari 1.300 organisasi. Implementasi di Indonesia termasuk program untuk lebih dari 1.500 karyawan PLN yang dirancang untuk mendukung kerja sama dan kolaborasi di sektor energi internasional.

Hasil program yang dijalankan meliputi kenaikan produktivitas hingga 145 persen, 84 persen peserta mencatat peningkatan English Proficiency Score (EPS) lebih dari 10 persen, serta 98 persen peserta menunjukkan kemajuan dalam enam bulan pertama pembelajaran.

“Di ELSA Business, kami percaya bahwa kemampuan komunikasi bukan hanya keterampilan bahasa, tetapi salah satu faktor yang menentukan kesiapan talenta di era AI… Melalui teknologi AI, ELSA Business membantu perusahaan menghadirkan pembelajaran yang lebih personal, kontekstual, dan terukur,” kata Yasser.