Berita7.co.id — Pergeseran geopolitik dan transformasi rantai pasok global memberi peluang bagi Indonesia untuk tampil sebagai kekuatan logistik di Asia Tenggara. Batam disebut memiliki posisi geografis yang paling strategis untuk menjadi gerbang utama menuju pasar ASEAN dan dunia.
Menurut Yukki Nugrahawan Hanafi, Senior Vice President FIATA sekaligus Ketua Dewan Penasihat AFFA, letak Batam di persimpangan jalur pelayaran antara Samudra Hindia dan Pasifik dan kedekatannya dengan Singapura serta Malaysia menjadi keunggulan sulit ditandingi kawasan lain di Indonesia.
“Kedekatan geografis Batam dengan Singapura dan Malaysia semestinya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang untuk membangun kolaborasi regional yang saling memperkuat daya saing ASEAN,” ujar Yukki.
Potensi Dari Laut Hingga Udara
Signifikansi posisi Batam tercermin dari besarnya lalu lintas maritim di Selat Malaka. Mengutip data UNCTAD, lebih dari 100 ribu kapal melintasi Selat Malaka sepanjang 2025, mengangkut sekitar 22–25 persen perdagangan maritim dunia setiap tahun.
Riset Mordor Intelligence juga disebut mencatat pasar freight and logistics ASEAN diproyeksikan tumbuh dari US$ 288,2 miliar pada 2025 menjadi US$ 390 miliar pada 2030 dengan CAGR 6,23 persen, yang didorong ekspansi manufaktur, e-commerce, dan investasi lintas negara.
Yukki menyatakan Pelabuhan Batu Ampar berpotensi menjadi regional container gateway untuk perdagangan Indonesia bagian barat, sekaligus mendukung aktivitas transshipment dan distribusi regional. Di sisi lain, Bandara Internasional Hang Nadim dengan landasan pacu sepanjang 4.025 meter disebut sebagai aset strategis yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Pengembangan kawasan Aerocity, pusat MRO, fasilitas cold chain, hingga layanan express cargo akan memperkuat posisi Batam sebagai simpul logistik udara yang terintegrasi dengan jaringan pelabuhan dan kawasan industri,” kata Yukki. Ia menambahkan konsep sea-air logistics yang memadukan pelabuhan dan bandara memiliki keunggulan dalam memangkas biaya dan waktu.
Syarat Untuk Menang Dalam Kompetisi
Yukki mengingatkan bahwa lokasi saja tidak cukup. Daya saing ditentukan kemampuan membangun integrated logistics ecosystem yang menghubungkan pelabuhan, bandar udara, kawasan industri, kawasan perdagangan bebas, pergudangan modern, layanan kepabeanan, transportasi multimoda, dan platform digital dalam satu sistem terpadu.
Modernisasi pelabuhan menjadi prioritas, menurutnya, mencakup digitalisasi proses bisnis, peningkatan produktivitas terminal peti kemas, serta penerapan standar internasional untuk menarik kepercayaan pelaku usaha global.
Transformasi logistik juga perlu didukung teknologi seperti artificial intelligence, Internet of Things, blockchain, digital customs, predictive logistics, dan port community system, ditopang regulasi konsisten serta tata kelola yang baik.
Yukki menyebut kerja sama organisasi internasional seperti AFFA dan FIATA terus mendorong harmonisasi regulasi dan konektivitas logistik di ASEAN. “Batam dapat menjadi laboratorium terbaik untuk mewujudkan visi tersebut melalui integrasi pelabuhan, bandar udara, kawasan industri, kawasan perdagangan bebas, dan jaringan logistik nasional,” ujarnya.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa visi besar itu memungkinkan terwujud jika pembangunan dilakukan terintegrasi dan didukung kepastian regulasi, percepatan investasi, penyederhanaan perizinan, serta kolaborasi antara pemerintah, BP Batam, operator bandara, dunia usaha, perguruan tinggi, dan asosiasi profesi.
Ikuti Berita7.co.id
